BERITA CIAMIS, ASAJABAR.COM – Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, menggelar seminar parenting bagi orang tua peserta didik se-Kecamatan Cipaku dengan tema “Menuju RA Aman Berkarakter, Sekolah Ramah Akhlak dan Moral”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Bahrul Anwar, Sabtu (24/10/2026).
Seminar ini bertujuan meningkatkan peran orang tua dalam membentuk karakter anak usia dini, sekaligus memperkuat sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta berlandaskan nilai-nilai akhlak dan moral.
Ketua KKRA Kecamatan Cipaku, Tita Periyanti, mengatakan salah satu tantangan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut adalah mendorong partisipasi orang tua agar dapat hadir dan mengikuti seminar hingga selesai.
Menurutnya, dari total 750 orang tua yang menjadi sasaran kegiatan, sebanyak 550 orang hadir. Sementara itu, sebagian orang tua lainnya berhalangan hadir karena kondisi tertentu, seperti kehamilan dan tidak adanya pihak yang dapat menggantikan mereka dalam mengasuh anak.
“Hal yang paling sulit adalah mengajak dan memotivasi orang tua agar hadir. Karena kegiatan ini tidak melibatkan anak-anak, pihak sekolah juga perlu berpartisipasi dalam membantu pengawasan anak selama orang tua mengikuti seminar,” ujarnya.
Tita berharap kegiatan parenting tersebut dapat mendorong perubahan pola pengasuhan, khususnya dalam membiasakan orang tua memberikan kasih sayang melalui pelukan, perhatian, dan komunikasi yang positif kepada anak.
Menurutnya, pembiasaan sederhana tersebut penting diterapkan secara konsisten, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah, sehingga pembentukan karakter anak dapat berjalan selaras.
Ia menjelaskan, kegiatan parenting juga menjadi bagian dari upaya KKRA Kecamatan Cipaku dalam membangun program unggulan yang dapat menjadi pembeda antara pendidikan Raudhatul Athfal (RA) dan lembaga pendidikan anak usia dini lainnya.
“RA ingin memiliki program unggulan yang menunjukkan kelebihan pendidikan di Kecamatan Cipaku. Karena itu, harus ada kesamaan pola pendidikan antara sekolah dan orang tua. Apa yang diajarkan di sekolah perlu dilanjutkan melalui pembiasaan di rumah,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, setiap lembaga RA akan diminta melakukan evaluasi terhadap penerapan pendidikan karakter dan upaya menciptakan lingkungan yang ramah anak. Evaluasi tersebut mencakup pembiasaan perilaku santun, perlindungan anak, serta pencegahan perundungan atau bullying.
Setiap lembaga juga diharapkan memiliki perangkat pendukung, seperti poster antiperundungan dan kesepakatan antara guru dengan peserta didik mengenai perilaku yang baik di lingkungan sekolah.
Selain itu, hasil penerapan program akan dipantau melalui laporan dan format penilaian yang disiapkan untuk masing-masing lembaga. Pendidikan karakter juga diharapkan menjadi bagian dari evaluasi perkembangan peserta didik.
Tita menegaskan, program tersebut tidak boleh berhenti setelah seminar selesai, tetapi harus diterapkan secara berkelanjutan dan dipantau melalui kegiatan monitoring dan evaluasi di setiap lembaga RA.
Orang Tua Harus Dampingi Anak di Era Digital
Sementara itu, Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengatakan seminar parenting tersebut merupakan bagian dari program tahunan yang telah direncanakan melalui rapat kerja KKRA Kabupaten Ciamis.
Menurutnya, program RA Aman Berkarakter dirancang untuk menumbuhkan generasi berakhlak mulia melalui lingkungan pendidikan yang aman, membahagiakan, dan penuh kasih sayang.
Lalis menilai keterlibatan orang tua sangat penting karena perkembangan karakter anak tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan di sekolah, tetapi juga oleh pola pengasuhan dan keteladanan di rumah.
“Orang tua harus berpartisipasi aktif dan berkolaborasi dengan sekolah. Program yang diajarkan di sekolah harus terintegrasi dengan kegiatan di rumah. Apa yang diajarkan guru perlu diperkuat melalui keteladanan orang tua,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Menurutnya, anak usia dini saat ini semakin mudah terpapar berbagai konten melalui perangkat digital sehingga membutuhkan perhatian dan pengawasan dari orang tua.
Pendampingan tersebut diperlukan agar anak tidak mengakses tontonan yang tidak sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya. Orang tua juga diharapkan mampu memilihkan konten yang edukatif serta membatasi penggunaan gawai secara bijak.
Di samping itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak, memberikan perhatian dan kasih sayang, serta menanamkan nilai-nilai akhlak dan moral sejak dini.
“Di era digital saat ini, orang tua harus hadir mendampingi anak. Jangan sampai anak dibiarkan mengakses berbagai tontonan tanpa pengawasan. Anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan keteladanan dari orang tuanya,” menjadi pesan penting dalam upaya membangun pola pengasuhan yang positif.
Menurut Lalis, pendidikan karakter harus berjalan selaras antara sekolah dan keluarga. Dengan demikian, nilai-nilai yang diajarkan guru dapat diterapkan pula dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
Selain membentuk karakter, pendampingan orang tua juga penting untuk melindungi anak dari berbagai risiko, termasuk perundungan dan pelecehan seksual. Anak perlu dibekali pemahaman sesuai usianya mengenai perlindungan diri, batasan pribadi, serta keberanian untuk menyampaikan kepada orang dewasa tepercaya apabila mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Lima Kecamatan Ikuti Program Parenting
Lalis menjelaskan, program parenting tersebut mencakup lima kecamatan di Kabupaten Ciamis, yakni Sadananya, Baregbeg, Sindangkasih, Panawangan, dan Cipaku.
Ia menambahkan, pengembangan program juga akan dilakukan melalui penilaian terhadap kinerja kepala RA, pengelolaan lembaga, serta pelaksanaan program-program unggulan di masing-masing sekolah.
Menurutnya, kepala RA didorong untuk terus berinovasi dalam mengembangkan program pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas layanan serta kepercayaan masyarakat terhadap lembaga RA.
Ia menilai kegiatan parenting menjadi salah satu inovasi penting untuk memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga, sekaligus menyamakan pemahaman mengenai pola pengasuhan dan pendidikan karakter anak.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, selama tiga bulan ke depan akan dilakukan pemantauan terhadap penerapan materi parenting di masing-masing lembaga. Buku atau catatan pelaksanaan kegiatan akan diperiksa secara berkala oleh kepala sekolah, disertai arahan dan pendampingan bagi perwakilan lembaga.
Selain itu, KKRA Kabupaten Ciamis berencana mendorong terbentuknya proyek percontohan (pilot project) di setiap kecamatan. Lembaga yang terpilih akan mendapatkan pembinaan lebih intensif agar dapat menjadi contoh penerapan pendidikan RA yang aman, berkarakter, serta ramah terhadap perkembangan anak.
Lalis berharap program tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap perubahan pola pengasuhan, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.
“Kami ingin RA benar-benar menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya masyarakat. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan yang membentuk akhlak mulia, adab yang baik, dan moral yang kuat. Harapannya, program ini memberikan dampak nyata sehingga kepercayaan masyarakat terhadap RA semakin meningkat,” pungkasnya.













