BERITA CIAMIS, ASAJABAR.COM – Pondok Pesantren Darussalam Ciamis menggelar kegiatan Gerak Cipta Masyarakat Islam bertajuk “Wujudkan Layanan Keagamaan Berdampak dan Berdaya” melalui program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN), sekaligus mengumumkan pemenang sayembara dan meluncurkan logo SABDA (Satu Abad Darussalam), Selasa (20/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di MAN 1 Ciamis tersebut diikuti oleh siswa-siswi MAN 1 Ciamis serta santri dan santriwati Pondok Pesantren Darussalam. Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Santri sekaligus menandai dimulainya perjalanan menuju satu abad Pondok Pesantren Darussalam Ciamis pada 2029.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si., menegaskan pentingnya bimbingan pranikah bagi remaja untuk membangun kesiapan calon pengantin dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
Menurutnya, pernikahan tidak cukup hanya dilandasi keinginan untuk membangun keluarga, tetapi juga harus disertai kesiapan mental, emosional, serta pemahaman mengenai tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga.
“Jadi, nikah itu jangan asal nikah. Harus ada persiapan, termasuk kematangan emosional dan sebagainya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa upaya mencegah perkawinan usia anak perlu mengacu pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menetapkan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.
Dudu menilai pondok pesantren memiliki posisi strategis dalam memberikan pemahaman kepada para santri mengenai kesiapan membangun rumah tangga. Lingkungan pesantren menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus memberikan pendidikan tentang keluarga.
Ia juga menekankan bahwa pembinaan kehidupan berkeluarga tidak berhenti sebelum pernikahan. Bimbingan perlu dilanjutkan setelah pasangan menikah melalui kegiatan keagamaan, pengajian, dan pendidikan keluarga.
“Kementerian Agama tidak lepas dari pondok pesantren. Pesantren dekat dengan masyarakat dan memiliki santri yang sedang menuntut ilmu, termasuk ilmu tentang kehidupan keluarga,” katanya.
Darussalam Siapkan Rangkaian Menuju Satu Abad
Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Fadlil Yani Ainusyamsi, M.Ag., yang akrab disapa Ang Icep, mengatakan peluncuran logo SABDA menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan menuju satu abad Pondok Pesantren Darussalam pada 2029.
Ia menjelaskan, peringatan satu abad tersebut tidak hanya dipusatkan di Ciamis, tetapi juga melibatkan jaringan alumni di berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
Sejumlah kegiatan direncanakan berlangsung di berbagai kota, di antaranya Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Rangkaian kegiatan juga direncanakan menjangkau alumni Darussalam yang berada di luar negeri.
“Kita akan menjalankan satu abad Darussalam dengan berbagai rangkaian kegiatan. Puncaknya nanti pada 2029, tetapi selama tiga tahun ini setiap tahun akan ada kegiatan,” ujar Ang Icep.
Ia menambahkan, keterlibatan alumni menjadi bagian penting dalam menyosialisasikan perjalanan Darussalam menuju satu abad sekaligus memperkuat hubungan antara pesantren dan para alumninya.
Mahasiswa UIN Makassar Raih Juara Sayembara Logo SABDA
Dalam kesempatan tersebut, panitia juga mengumumkan pemenang sayembara logo SABDA yang diikuti 66 peserta dari berbagai daerah. Sejumlah peserta berasal dari berbagai kota di Indonesia, sementara partisipasi juga datang dari luar negeri.
Ang Icep menjelaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara bertahap hingga menghasilkan tiga karya terbaik. Logo yang meraih juara pertama kemudian dipilih untuk digunakan dalam rangkaian kegiatan Satu Abad Darussalam.
Pemenang juara pertama diketahui bernama Syarifuddin, seorang mahasiswa perguruan tinggi Islam negeri di Makassar.
Menurut Ang Icep, sayembara tersebut merupakan salah satu bentuk pelibatan kreativitas generasi muda dalam mendukung promosi dan syiar pesantren di era digital.
Ia menilai pemanfaatan teknologi digital menjadi kebutuhan penting bagi lembaga pendidikan Islam agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislamannya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi di lingkungan pesantren tetap memerlukan pengawasan dan aturan agar tidak mengganggu kegiatan belajar para santri.
Pesantren Berperan dalam Mempersiapkan Generasi Berkeluarga
Melalui program Bimbingan Remaja Usia Nikah, para siswa dan santri mendapatkan edukasi mengenai pentingnya kesiapan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.
Ang Icep menuturkan bahwa keluarga memiliki peran mendasar dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Keluarga yang harmonis diharapkan dapat berkontribusi terhadap terciptanya masyarakat yang damai.
Karena itu, remaja perlu memperoleh pembinaan sejak dini agar memiliki pemahaman mengenai tanggung jawab, kesehatan, kesiapan mental, serta kehidupan setelah menikah.
Ia menilai perkawinan usia anak merupakan persoalan kompleks yang tidak hanya berkaitan dengan ketentuan hukum, tetapi juga menyangkut kesiapan fisik, psikologis, pendidikan, dan kemampuan mengasuh anak.
Oleh sebab itu, pendidikan mengenai kehidupan berkeluarga perlu diberikan secara tepat agar generasi muda dapat mengambil keputusan berdasarkan kesiapan dan pemahaman yang memadai.
Pertahankan Tradisi, Adaptif terhadap Perkembangan Zaman
Memasuki perjalanan menuju satu abad, Pondok Pesantren Darussalam Ciamis berkomitmen mempertahankan tradisi keilmuan Islam sembari mengadaptasi perkembangan teknologi dan pendidikan modern.
Ang Icep menyebutkan bahwa pesantren tetap mempertahankan tradisi pengajian, halaqah, dan bandongan sebagai bagian dari metode pembelajaran yang telah mengakar dalam pendidikan pesantren.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital tetap didorong sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan mendukung pengembangan kemampuan santri.
Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sebaiknya dimanfaatkan sebagai sumber informasi tambahan, bukan pengganti guru dalam proses menuntut ilmu.
Menurutnya, proses pendidikan tetap membutuhkan bimbingan langsung dari guru atau ustaz agar informasi yang diperoleh dapat dipahami dan diperiksa kebenarannya.
Melalui kegiatan Gerak Cipta Masyarakat Islam, Bimbingan Remaja Usia Nikah, serta peluncuran logo SABDA, Pondok Pesantren Darussalam Ciamis diharapkan semakin memperkuat perannya dalam pendidikan keagamaan, pembinaan keluarga, dan pemberdayaan generasi muda menjelang satu abad perjalanan lembaga tersebut pada 2029.













