Berita Banjarbaru, Asajabar.com – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, menghadiri peluncuran 166 Sekolah Rakyat oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
Peluncuran tersebut turut dihadiri sejumlah menteri dan kepala lembaga Kabinet Merah Putih. Dalam kesempatan itu, Wamen Ossy menegaskan bahwa Program Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh anak Indonesia.
“Sekolah Rakyat menjadi bukti bahwa negara hadir untuk memastikan setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, memperoleh hak atas pendidikan yang layak. Anak-anak dari keluarga tidak mampu kini memiliki harapan untuk bersekolah tanpa dipungut biaya, dengan fasilitas yang disiapkan secara optimal,” ujar Ossy Dermawan usai peluncuran.
Ia menambahkan, program tersebut telah menunjukkan dampak positif bagi para peserta didik. Wamen Ossy menuturkan bahwa Presiden Prabowo Subianto bahkan tampak terharu saat menyaksikan langsung kisah sukses para siswa Sekolah Rakyat.
“Tadi kita melihat success story-nya. Bapak Presiden sampai menitikan air mata karena melihat anak-anak ini, setelah diberikan peluang dan kesempatan, mampu menunjukkan prestasi, capaian, dan potensi terbaiknya,” jelasnya.
Menurut Ossy, keberhasilan Program Sekolah Rakyat tidak terlepas dari sinergi lintas kementerian dan lembaga yang terus diperkuat. Sinergi tersebut mencakup penyediaan sarana dan prasarana, kepastian pemanfaatan lahan, serta dukungan kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kami di Kementerian ATR/BPN, khususnya jajaran BPN di daerah yang berada di garda terdepan, siap mendukung penuh program prioritas Presiden agar dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Peluncuran ini menandai dimulainya operasional Sekolah Rakyat rintisan di 166 titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari strategi nasional pengentasan kemiskinan melalui pendekatan pendidikan dan pemberdayaan keluarga.
Adapun sebaran Sekolah Rakyat rintisan tersebut meliputi Sumatra sebanyak 35 lokasi, Jawa 70 lokasi, Bali dan Nusa Tenggara tujuh lokasi, Kalimantan 13 lokasi, Sulawesi 28 lokasi, Maluku tujuh lokasi, serta Papua enam lokasi.
Saat ini, lebih dari 15.000 siswa telah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat yang didukung teknologi digital. Pemerintah menargetkan pengembangan hingga 500 titik Sekolah Rakyat pada 2029 guna meningkatkan daya tampung pendidikan bagi anak-anak dari keluarga dengan tingkat perekonomian terendah berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).













