Berita Ciamis, Asajabar.com – Puluhan petani yang tergabung dalam kelompok tani padi organik di Desa Cigembor mengikuti Sekolah Lapangan Pertanian yang digelar sebagai sarana pembelajaran langsung mengenai budidaya padi sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut melibatkan petani, penyuluh pertanian, kelurahan, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Ciamis
Kepala Bidang Penyuluhan DPKP Kabupaten Ciamis, Novi Nuryanti, mengatakan program tersebut merupakan kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan pertanian organik di daerah. Selain DPKP, kegiatan juga melibatkan pemerintah desa atah kelurahan, penyuluh pertanian, dan kelompok tani sebagai pelaku utama di lapangan.
Menurut Novi, pertanian organik menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesehatan tanah sekaligus mempertahankan keseimbangan ekosistem pertanian. Program tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Ciamis.
“Secara bertahap kami terus menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai kondisi tanah saat ini dan pentingnya menerapkan pola pertanian yang lebih sehat serta ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah hasil pertanian organik yang telah berkembang di Kabupaten Ciamis mulai mendapatkan akses pemasaran. Salah satunya beras organik dari Kecamatan Pamarican yang dipasarkan melalui jejaring pemasaran yang difasilitasi DPKP.
Sementara itu, Koordinator Umum II Gaccors, Alik Sutaryat, menjelaskan bahwa Sekolah Lapangan dirancang sebagai proses belajar berbasis pengalaman langsung di lahan pertanian. Para petani diajak mengamati dan menganalisis kondisi agroekosistem sawah secara berkala.
“Sekolah Lapangan ini merupakan salah satu bentuk penyelamatan ekosistem sawah. Petani belajar mengkaji kondisi tanah, tanaman, serangga, hingga musuh alami yang ada di lingkungan pertanian,” katanya.
Menurut Alik, kegiatan yang saat ini memasuki pekan ketiga tersebut dilakukan secara swadaya oleh para petani. Setiap pekan peserta melakukan pengamatan terhadap perkembangan tanaman sehingga mampu memahami perubahan yang terjadi di lahan secara langsung.
Ia menuturkan, keluhan yang paling sering disampaikan petani selama ini berkaitan dengan serangan hama, tingginya biaya produksi, dan hasil panen yang belum optimal. Karena itu, peserta Sekolah Lapangan dibekali pengetahuan mengenai cara memperbaiki kualitas tanah melalui pendekatan biologis dan pemanfaatan proses alami yang terjadi di ekosistem pertanian.
“Selama tujuh hari sebelum turun ke lapangan, para petani terlebih dahulu mengikuti pembelajaran di kelas. Mereka belajar bagaimana membangun kesuburan tanah dan memperbaiki kondisi lahan secara alami,” jelasnya.
Dalam praktiknya, petani menerapkan metode System of Rice Intensification (SRI) Organik yang dinilai lebih efisien dalam penggunaan air. Alik menyebut metode tersebut mampu menghemat kebutuhan air hingga 42 persen dibandingkan sistem budidaya konvensional.
Saat ini, lahan percontohan yang digunakan dalam program tersebut seluas satu hektare. Ke depan, luas pengembangan ditargetkan meningkat menjadi 15 hektare pada musim tanam berikutnya dan mencapai 32 hektare pada musim selanjutnya.
Alik mengakui pengembangan pertanian organik masih menghadapi tantangan berupa anggapan bahwa sistem organik sulit diterapkan dan dapat menurunkan produktivitas. Namun berdasarkan hasil pendampingan yang dilakukan selama dua tahun terakhir di Ciamis, produktivitas justru menunjukkan peningkatan.
Ia mencontohkan salah satu pelaku pertanian organik yang mampu menghasilkan panen hingga 9,6 ton per hektare, meningkat dibandingkan hasil sebelumnya yang berada di kisaran lima ton per hektare.
“Ketika petani memahami konsep dan praktiknya dengan baik, pertanian organik bukan hanya mampu menjaga lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas lahan,” pungkasnya.













