Petani Cigembor Pelajari Sistem Padi Organik untuk Jaga Ekosistem dan Tingkatkan Hasil Panen

- Redaktur

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekolah Lapang Pertanian di  Kelurahan Cigembor Kecamatan Ciamis, Senin (8/6/2026).

Sekolah Lapang Pertanian di Kelurahan Cigembor Kecamatan Ciamis, Senin (8/6/2026).

Berita Ciamis, Asajabar.com – Puluhan petani yang tergabung dalam kelompok tani padi organik di Desa Cigembor mengikuti Sekolah Lapangan Pertanian yang digelar sebagai sarana pembelajaran langsung mengenai budidaya padi sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut melibatkan petani, penyuluh pertanian, kelurahan, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Ciamis

Kepala Bidang Penyuluhan DPKP Kabupaten Ciamis, Novi Nuryanti, mengatakan program tersebut merupakan kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan pertanian organik di daerah. Selain DPKP, kegiatan juga melibatkan pemerintah desa atah kelurahan, penyuluh pertanian, dan kelompok tani sebagai pelaku utama di lapangan.

Menurut Novi, pertanian organik menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesehatan tanah sekaligus mempertahankan keseimbangan ekosistem pertanian. Program tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Ciamis.

“Secara bertahap kami terus menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai kondisi tanah saat ini dan pentingnya menerapkan pola pertanian yang lebih sehat serta ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejumlah hasil pertanian organik yang telah berkembang di Kabupaten Ciamis mulai mendapatkan akses pemasaran. Salah satunya beras organik dari Kecamatan Pamarican yang dipasarkan melalui jejaring pemasaran yang difasilitasi DPKP.

Baca Juga :  MPLS SMAN 2 Ciamis Tanamkan Nilai Pancawaluya, TNI, Polri dan BNN Dilibatkan Bekali Siswa Baru

Sementara itu, Koordinator Umum II Gaccors, Alik Sutaryat, menjelaskan bahwa Sekolah Lapangan dirancang sebagai proses belajar berbasis pengalaman langsung di lahan pertanian. Para petani diajak mengamati dan menganalisis kondisi agroekosistem sawah secara berkala.

“Sekolah Lapangan ini merupakan salah satu bentuk penyelamatan ekosistem sawah. Petani belajar mengkaji kondisi tanah, tanaman, serangga, hingga musuh alami yang ada di lingkungan pertanian,” katanya.

Menurut Alik, kegiatan yang saat ini memasuki pekan ketiga tersebut dilakukan secara swadaya oleh para petani. Setiap pekan peserta melakukan pengamatan terhadap perkembangan tanaman sehingga mampu memahami perubahan yang terjadi di lahan secara langsung.

Ia menuturkan, keluhan yang paling sering disampaikan petani selama ini berkaitan dengan serangan hama, tingginya biaya produksi, dan hasil panen yang belum optimal. Karena itu, peserta Sekolah Lapangan dibekali pengetahuan mengenai cara memperbaiki kualitas tanah melalui pendekatan biologis dan pemanfaatan proses alami yang terjadi di ekosistem pertanian.

“Selama tujuh hari sebelum turun ke lapangan, para petani terlebih dahulu mengikuti pembelajaran di kelas. Mereka belajar bagaimana membangun kesuburan tanah dan memperbaiki kondisi lahan secara alami,” jelasnya.

Baca Juga :  MPLS SDN 7 Ciamis Dikemas Seru, Siswa Baru Belajar Sambil Bermain Sejak Hari Pertama

Dalam praktiknya, petani menerapkan metode System of Rice Intensification (SRI) Organik yang dinilai lebih efisien dalam penggunaan air. Alik menyebut metode tersebut mampu menghemat kebutuhan air hingga 42 persen dibandingkan sistem budidaya konvensional.

Saat ini, lahan percontohan yang digunakan dalam program tersebut seluas satu hektare. Ke depan, luas pengembangan ditargetkan meningkat menjadi 15 hektare pada musim tanam berikutnya dan mencapai 32 hektare pada musim selanjutnya.

Alik mengakui pengembangan pertanian organik masih menghadapi tantangan berupa anggapan bahwa sistem organik sulit diterapkan dan dapat menurunkan produktivitas. Namun berdasarkan hasil pendampingan yang dilakukan selama dua tahun terakhir di Ciamis, produktivitas justru menunjukkan peningkatan.

Ia mencontohkan salah satu pelaku pertanian organik yang mampu menghasilkan panen hingga 9,6 ton per hektare, meningkat dibandingkan hasil sebelumnya yang berada di kisaran lima ton per hektare.

“Ketika petani memahami konsep dan praktiknya dengan baik, pertanian organik bukan hanya mampu menjaga lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas lahan,” pungkasnya.

Berita Terkait

MUI Ciamis Soroti LGBTQ, Minta Sinergi Pemerintah, Keluarga, dan Tokoh Agama Diperkuat
BBWS Citanduy Percepat Pembangunan Irigasi Lewat P3-TGAI di 73 Lokasi
PASI Kota Tasikmalaya Periode 2026-2031 Fokus Lestarikan Budaya Sunda dan Perkuat Ketahanan Keluarga 
Perlindungan Anak Yatim Jadi Pesan Utama Gebyar Muharram Roudlotunnisa Masjid Agung Ciamis
Momentum Muharam, Kemenag Ciamis Tebar Kepedulian untuk Anak Yatim dan Disabilitas
Jamaah Majelis Taklim Roudlotunnisa Masjid Agung Ciamis Kompak Sisihkan Rezeki untuk Anak Yatim
Jemaah Haji Ciamis Kembali ke Tanah Air, PPIH Ingatkan Jaga Kemabruran Haji
ASN Baru Kemenag Ciamis Diminta Tingkatkan Kompetensi dan Disiplin Kerja

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:17 WIB

Laporan Keuangan 2025 Kembali Raih WTP, Sekjen ATR/BPN Minta Jajaran Tindak Lanjuti Temuan BPK

Sabtu, 18 Juli 2026 - 07:33 WIB

Realisasi Anggaran ATR/BPN Tembus Rp6,12 Triliun, Komisi II DPR Minta Pengelolaan Berbasis Kinerja

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:27 WIB

Sertipikasi Tanah Ulayat Lindungi Hak Masyarakat Adat, Bukan Hilangkan Hak Adat

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:18 WIB

Nusron dan Maruarar Sepakati Sertipikasi Gratis untuk MBR, Targetkan Satu Juta Bidang Tanah pada 2026

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:11 WIB

Sekjen ATR/BPN Minta Kanwil dan Kantah Percepat Program Strategis

Jumat, 17 Juli 2026 - 15:19 WIB

KKNP-PTLP Perdana STPN Berhasil Petakan Lebih dari 224 Ribu Bidang Tanah dan Restorasi Arsip Pascabencana

Jumat, 17 Juli 2026 - 15:04 WIB

Kajian Komnas HAM Perkuat Langkah Pemerintah Tangani Konflik Agraria Secara Menyeluruh

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Tanah Wakaf Tanpa Dokumen Lengkap Tetap Bisa Bersertipikat, Ini Mekanismenya

Berita Terbaru

error: Content is protected !!