BERITA CIAMIS, ASAJABAR.COM – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) De La Tina di Kabupaten Ciamis terus menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menerapkan standar operasional dalam proses penyediaan hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
SPPG De La Tina merupakan bagian dari SPPG Yayasan Garuda Galuh Ciamis. Dapur tersebut mulai beroperasi pada 15 Desember 2025 dan secara bertahap meningkatkan jumlah penerima manfaat.
Kepala SPPG De La Tina, Mohamad Ilham Syah Rizal, mengatakan target distribusi makanan selama ini dapat dipenuhi meskipun jumlah penerima manfaat dapat mengalami perubahan setiap harinya.
“Setiap harinya kadang penerima manfaat berubah, ada yang bertambah. Tapi kita usahakan semuanya bisa terpenuhi dan dilayani sesuai SOP serta aturan BGN,” ujar Ilham.
Menurutnya, penerima manfaat saat ini mencapai 2.347 orang. Jumlah tersebut termasuk kelompok B3 yang terdiri atas balita, ibu menyusui, dan ibu hamil.
Ilham mengatakan, kelompok penerima manfaat tertentu mendapatkan penyesuaian menu sesuai kebutuhan. Salah satunya untuk penerima manfaat dengan kondisi stunting yang diberikan menu dengan tambahan protein.
“Sekarang ada banyak kategori, ada stunting, ibu hamil KEK, kemudian balita. Untuk olahan stunting kita kasih double protein. Kita menjalankan sesuai aturan yang berlaku dan arahan BGN,” katanya.
SPPG De La Tina sendiri mulai beroperasi pada 15 Desember 2025. Pada awal operasional, jumlah penerima manfaat dilakukan secara bertahap, mulai sekitar 797 orang, kemudian meningkat menjadi sekitar 1.000 orang hingga lebih dari 2.000 orang.
Jumlah penerima manfaat sempat mencapai sekitar 3.000 orang sebelum berada pada angka 2.347 orang saat ini.
Pengawasan Mutu Dilakukan dari Bahan Datang hingga Distribusi
Dalam proses penyediaan makanan, pihak SPPG menerapkan pengawasan kualitas sejak bahan pangan tiba di dapur. Bahan yang datang terlebih dahulu diperiksa dan disortir untuk memastikan bahan yang digunakan layak.
“Dari mulai barang datang langsung quality control. Kita sortir mana yang layak dan mana yang tidak. Kita simpan di suhu yang memang seharusnya,” jelas Ilham.
Proses pengawasan juga dilakukan pada tahap persiapan dan pengolahan. Bahan pangan yang ditemukan dalam kondisi tidak layak akan dipisahkan dan tidak digunakan dalam proses memasak.
Selain itu, para relawan diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja. Pengawasan juga dilakukan terhadap suhu makanan serta batas waktu makanan agar tetap memenuhi standar keamanan pangan sebelum dikonsumsi penerima manfaat.
Libatkan Sekolah dan Posyandu dalam Evaluasi Menu
Untuk menjaga agar menu tidak hanya memenuhi ketentuan gizi tetapi juga dapat diterima penerima manfaat, SPPG De La Tina melakukan komunikasi dengan pihak sekolah dan posyandu.
Menurut Ilham, pihaknya berdiskusi dengan penanggung jawab atau PIC di sekolah dan posyandu mengenai makanan yang paling banyak dikonsumsi maupun makanan yang kurang diminati.
“Jadi kita menyesuaikan di lapangan, olahan apa yang memang disukai dan dimakan oleh penerima manfaat,” katanya.
Masukan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi untuk penyusunan menu berikutnya.
Kelola Sisa Pangan untuk Budidaya Maggot
Salah satu upaya yang dilakukan SPPG De La Tina adalah memanfaatkan sebagian limbah sisa pangan untuk mendukung budidaya maggot.
Ilham menjelaskan, limbah yang dimanfaatkan antara lain sisa sayuran, potongan bahan pangan yang tidak digunakan, serta sisa makanan yang tidak dikonsumsi.
Limbah tersebut dikumpulkan dan kemudian dimanfaatkan sebagai pakan maggot yang dibudidayakan di wilayah Pulowerang, Kecamatan Lakbok, Ciamis.
“Limbah sisa seperti sayur-sayuran, sisa potongan yang tidak terpakai, lalu sebagian yang tidak dimakan kita kumpulkan dan dijadikan pakan maggot,” ujarnya.
SPPG De La Tina Telah Memiliki Sejumlah Sertifikasi
Dalam menunjang penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan, SPPG De La Tina menyatakan telah memiliki sejumlah sertifikasi dan kelengkapan pendukung operasional.
Ilham menyebut dapur tersebut telah memperoleh sertifikat halal dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta sertifikasi bagi penjamah makanan.
Selain itu, dalam pengelolaan air limbah, SPPG De La Tina telah menggunakan Sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biofilter Anaerobik BIOFAL dari PT FAL JAYA ABADI.
PT FAL JAYA ABADI telah memiliki sertifikat ISO, yang menjadi bagian dari standar perusahaan dalam penyediaan sistem pengolahan air limbah tersebut.
Penggunaan IPAL Biofilter Anaerobik BIOFAL tersebut menjadi bagian dari upaya SPPG De La Tina dalam mengelola limbah cair yang dihasilkan dari aktivitas dapur.
Sistem ini berfungsi membantu mengurangi kadar pencemar BOD, COD, dan TSS pada air limbah sesuai prinsip sanitasi dan pengelolaan limbah yang baik.
Dengan adanya sistem pengolahan tersebut, pengelolaan limbah cair dilakukan melalui proses pengolahan sebelum air limbah dibuang.
Berbagai sertifikasi dan kelengkapan tersebut menjadi bagian dari upaya SPPG De La Tina dalam memenuhi standar operasional, terutama pada aspek higiene, sanitasi, keamanan pangan, serta pengelolaan lingkungan.
Terkait tenaga yang menjalankan fungsi pengawasan gizi, Ilham mengatakan pihaknya memiliki petugas dengan latar belakang kesehatan masyarakat yang menjalankan fungsi pengawasan gizi sesuai ketentuan yang berlaku.
Keluhan Penerima Manfaat Ditampung melalui Grup Komunikasi
Dalam pelaksanaannya, SPPG De La Tina juga menerima berbagai masukan maupun keluhan dari penerima manfaat dan pihak yang terlibat dalam distribusi makanan.
Ilham mengatakan, pihaknya menyediakan saluran komunikasi melalui grup WhatsApp yang terhubung dengan dapur SPPG. Keluhan dapat disampaikan secara langsung maupun melalui grup tersebut dengan menyertakan bukti apabila terdapat bahan makanan yang rusak.
“Fotokan buktinya seperti apa barang yang rusak, nanti kita langsung ganti,” katanya.
Ia mengakui keluhan masih dapat terjadi, salah satunya berkaitan dengan kondisi bahan pangan ketika tiba di dapur. Namun, pihak SPPG berupaya melakukan penggantian dan evaluasi terhadap setiap laporan yang masuk.
Evaluasi Dilakukan untuk Menjaga Konsistensi Pelayanan
Menurut Ilham, salah satu tantangan operasional yang dihadapi adalah perbedaan selera penerima manfaat terhadap menu makanan.
Karena itu, komunikasi dengan PIC sekolah dan posyandu terus dilakukan untuk mengetahui menu yang disukai maupun yang kurang diminati.
Masukan tersebut kemudian dievaluasi dan menjadi pertimbangan dalam penyusunan menu pada periode berikutnya.
Ke depan, SPPG De La Tina berkomitmen mempertahankan mutu dan kualitas makanan, menjaga standar higiene dan sanitasi, serta memperkuat pengelolaan limbah dan komunikasi dengan pihak sekolah, posyandu, dan penerima manfaat.
“Kita tetap menerima masukan-masukan dari para penerima manfaat terkait kendala atau kerusakan makanan. Kita tetap evaluasi dan mengusahakan untuk merealisasikannya,” pungkas Ilham.













