Berita Ciamis, Asajabar.com – Ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah Ibtidaiyah (MI) tingkat Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Cijeungjing-Cisaga kembali digelar sebagai wadah untuk menggali dan mengembangkan potensi siswa di bidang olahraga, seni, dan keagamaan.
Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun tersebut diikuti oleh madrasah dari Kecamatan Cijeungjing dan Kecamatan Cisaga. Berbagai cabang lomba dipertandingkan, mulai dari futsal, bola voli, bulu tangkis, tenis meja, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), kaligrafi, vokal solo, puisi, hingga pidato Bahasa Indonesia.
Ketua KKMI Cijeungjing-Cisaga, Hj. Rukmini, mengatakan Porseni menjadi sarana untuk mengidentifikasi bakat dan kemampuan siswa sejak dini. Meski dilaksanakan secara rutin, pelaksanaan kegiatan masih menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang dimiliki masing-masing madrasah.
“Tujuan utama kegiatan ini untuk melihat dan mengembangkan bakat anak-anak. Setiap tahun kami melaksanakan Porseni, meskipun jenis lomba yang dipertandingkan menyesuaikan kemampuan yang ada,” ujarnya.
Menurut Rukmini, peserta berasal dari 11 madrasah yang tergabung dalam KKMI Cijeungjing-Cisaga, terdiri dari sembilan MI di Kecamatan Cijeungjing dan dua MI di Kecamatan Cisaga. Seluruh madrasah peserta merupakan lembaga pendidikan swasta.
Ia mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama dalam penyelenggaraan kegiatan. Karena itu, pihak madrasah kerap mengandalkan dukungan komite sekolah untuk membantu pelaksanaan berbagai program pengembangan siswa.
“Kendala terbesar tentu masalah biaya. Namun kami tetap berupaya agar kegiatan ini bisa berjalan karena menjadi bagian penting dalam pembinaan prestasi siswa,” katanya.
Rukmini berharap kontingen KKMI Cijeungjing-Cisaga mampu kembali meraih prestasi terbaik seperti yang pernah diraih pada pelaksanaan Porseni sebelumnya. Namun demikian, ia mengakui minat peserta pada beberapa cabang lomba masih perlu ditingkatkan.
Sementara itu, Pengawas Madrasah Ibtidaiyah, H. Hopidin, menekankan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dan kejujuran selama pelaksanaan perlombaan. Menurutnya, sikap adil dari panitia, dewan juri, maupun wasit menjadi faktor penting dalam menjaga semangat dan mental para peserta.
“Jangan sampai ada siswa yang merasa dirugikan karena penilaian yang tidak objektif. Sportivitas harus menjadi landasan utama dalam seluruh rangkaian kegiatan,” ujarnya.
Ia menilai Porseni bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana pembentukan karakter sekaligus wahana untuk melahirkan siswa-siswa berprestasi yang mampu bersaing pada tingkat yang lebih tinggi.
Hopidin berharap para atlet dan peserta yang tampil mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya sehingga dapat mewakili daerah pada ajang Porseni tingkat kabupaten hingga provinsi.
“Kegiatan ini harus menjadi momentum untuk menemukan siswa-siswa terbaik yang memiliki potensi dan prestasi di bidang olahraga, seni, maupun keagamaan. Kami berharap akan lahir wakil-wakil terbaik yang mampu berprestasi di tingkat kabupaten bahkan provinsi,” pungkasnya.













