Berita Ciamis, Asajabar.com – Maraknya praktik keuangan ilegal seperti pinjaman online, investasi bodong, hingga “bank emok” ilegal menjadi sorotan serius. Rendahnya literasi keuangan dinilai menjadi salah satu penyebab utama masyarakat mudah terjerat.
Anggota Komisi A DPRD Ciamis, Mohamad Ijudin, M.Pd, menilai persoalan tersebut tidak bisa ditangani dengan pendekatan biasa. Ia mendorong keterlibatan langsung penyuluh agama sebagai ujung tombak edukasi di masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Training of Trainers (ToT) edukasi keuangan yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) Ciamis bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Selasa (7/4/2026).
Menurut Ijudin, penyuluh agama memiliki posisi strategis karena kedekatannya dengan masyarakat. Mereka tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menjadi rujukan dalam berbagai persoalan sosial.
“Masalahnya bukan sekadar banyaknya praktik ilegal, tapi minimnya pemahaman masyarakat. Di sinilah peran penyuluh menjadi penting, karena mereka adalah figur yang dipercaya,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini literasi keuangan belum menjadi prioritas kebijakan di daerah. Padahal, dampak yang ditimbulkan cukup luas, mulai dari jeratan utang hingga kerentanan ekonomi keluarga.
Karena itu, Ijudin mendorong pendekatan yang lebih inovatif tanpa bergantung pada anggaran besar, salah satunya dengan menyisipkan materi literasi keuangan dalam kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan.
“Tidak harus selalu program besar. Edukasi bisa dilakukan melalui pengajian atau ceramah yang memang sudah berjalan. Tinggal bagaimana materinya disisipkan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi persoalan tersebut. Tidak hanya OJK dan pemerintah daerah, tetapi juga lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, hingga kalangan kampus.
“Masalah ini tidak bisa diselesaikan satu pihak. Harus ada sinergi, karena yang dihadapi juga kompleks dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Ijudin berharap pelatihan yang diberikan tidak berhenti pada tataran teori. Ia menekankan pentingnya tindak lanjut berupa aksi nyata di lapangan, terutama dalam membantu masyarakat yang sudah terlanjur terjerat utang atau investasi ilegal.
Ia pun mengingatkan penyuluh agama untuk memperluas perannya, tidak hanya sebagai penyampai ceramah, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu memberikan solusi.
“Penyuluh harus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya memberi pemahaman, tapi juga membantu mencari jalan keluar ketika masyarakat sudah terjebak masalah keuangan,” pungkasnya.













