Kemarau Panjang, 90 Persen Kolam Budidaya Ikan di Ciamis Terdampak Kekeringan

- Redaktur

Kamis, 3 September 2026 - 17:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolam yang biasanya penuh air dan kehidupan kini mengering dan ditumbuhi rumput liar.

Kolam yang biasanya penuh air dan kehidupan kini mengering dan ditumbuhi rumput liar.

Berita Ciamis, Asajabar.com – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memberikan dampak serius terhadap sektor perikanan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Ciamis mencatat sekitar 90 persen kolam budidaya milik masyarakat mengalami kekeringan hingga berdampak terhadap kegiatan pembudidayaan ikan.

Kepala Bidang Pemanfaatan dan Pengendalian Sumber Daya Perikanan Disnakkan Ciamis, Aris Andriyana, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena ketersediaan air menjadi faktor utama dalam usaha perikanan, terutama budidaya ikan air tawar.

“Waktu menghadapi musim kemarau ini sektor perikanan memang sangat terasa terdampak, karena perikanan itu sumber air menjadi hal yang utama,” ujar Aris.

Menurutnya, berdasarkan pendataan bersama penyuluh perikanan di Kabupaten Ciamis, dampak kekeringan telah dirasakan hampir di seluruh wilayah. Salah satu daerah yang cukup terdampak berada di Ciamis bagian selatan.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah wilayah yang kondisi sumber airnya relatif terjaga. Wilayah tersebut umumnya berada di kawasan yang berdekatan dengan kaki Gunung Sawal, seperti Sadananya, Cipaku, Cikoneng, Ciawi, Panjalu, Panumbangan, dan sebagian wilayah Sindangkasih.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang semakin meluas, Disnakkan Ciamis bersama penyuluh perikanan terus memberikan edukasi kepada para pembudidaya. Salah satu yang ditekankan adalah efisiensi penggunaan air.

Selain itu, pembudidaya diminta menyesuaikan kepadatan ikan dengan luas dan kapasitas kolam. Kepadatan yang terlalu tinggi dapat memperburuk kualitas air dan meningkatkan risiko kematian ikan.

“Kolam yang ukurannya sedang jangan sampai dimasukkan atau memelihara ikan yang terlalu banyak. Kepadatan tebar harus disesuaikan,” katanya.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah manajemen penyakit. Menurut Aris, kondisi air yang minim dapat meningkatkan konsentrasi amonia di dalam kolam sehingga berpotensi memicu berbagai penyakit pada ikan.

Karena itu, penggunaan dan pengelolaan air harus dilakukan secara cermat agar kualitas air tetap terjaga.

Kematian Ikan Terjadi Bertahap

Aris mengatakan belum terdapat data angka kematian ikan secara keseluruhan akibat kekeringan. Namun, laporan mengenai kematian ikan tetap ditemukan di sejumlah wilayah.

Kematian tersebut umumnya tidak terjadi dalam jumlah besar sekaligus, melainkan secara bertahap. Para pembudidaya biasanya langsung mengambil ikan yang mati untuk mencegah dampak lebih lanjut terhadap kondisi kolam.

“Kalau kematian itu biasanya tidak langsung besar, tetapi sedikit-sedikit. Para pembudidaya sudah tahu dan mengantisipasi ketika ada yang mati, biasanya langsung diangkat,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dirasakan di sejumlah Balai Benih Ikan (BBI) milik pemerintah daerah. Salah satunya BBI Sukamaju di Kecamatan Baregbeg yang turut mengalami keterbatasan air.

Baca Juga :  Belanja Hemat di Tengah Kemarau, Warga Baregbeg Serbu Gerakan Pangan Murah

Untuk mempertahankan kegiatan budidaya, pengelola mengalihkan ikan ke kolam yang masih memiliki ketersediaan air. Sistem aerasi menggunakan kincir juga dimanfaatkan untuk membantu menjaga kadar oksigen terlarut di dalam air.

“Di BBI sendiri memang krisis air juga cukup melanda kita, terutama yang di BBI Sukamaju. Kita alihkan ke kolam-kolam yang masih ada airnya dan dibantu sistem aerasi menggunakan kincir,” kata Aris.

Menurutnya, kepadatan ikan di kolam BBI juga disesuaikan dengan luas kolam dan ketersediaan air.

Produksi Larva Tetap Berjalan

Meski kemarau berdampak terhadap ketersediaan air, kegiatan produksi larva di BBI tidak dihentikan. Secara biologis, musim kemarau justru dapat menjadi periode yang cukup baik untuk produksi larva.

Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan permintaan masyarakat. Ketika banyak kolam pembudidaya mengalami kekeringan, permintaan terhadap bantuan benih ikan turut mengalami penurunan.

“Secara biologis justru di musim kemarau itu produksi larva banyak. Kekhawatirannya kekurangan air. Kemarin sempat produksi banyak, tetapi permintaan hibah justru menurun karena kolam-kolam banyak yang kering,” jelasnya.

Meski begitu, masih terdapat kelompok pembudidaya yang mengajukan permintaan bantuan benih, terutama dari wilayah yang ketersediaan airnya masih relatif baik di sekitar kaki Gunung Sawal.

Disnakkan Ciamis saat ini memiliki tiga BBI, yakni BBI Sukamaju di Kecamatan Baregbeg, BBI Sukahurip di Kecamatan Pamarican, serta BBI Karangpaninggal di Kecamatan Purwadadi atau wilayah Pegantungan.

Ketiga lokasi tersebut juga turut merasakan dampak kemarau. Bahkan, kondisi ketersediaan air di wilayah Purwadadi disebut hanya tersisa sekitar setengah meter.

“Yang di daerah Purwadadi malah kondisi air mungkin tinggal setengah meteran,” ujarnya.

Cuaca Ekstrem Pengaruhi Larva

Produksi larva tetap dioptimalkan meski terdapat risiko kematian. Fluktuasi suhu akibat perbedaan cuaca pada siang dan malam hari menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan larva.

Aris mengatakan kematian larva memang tetap terjadi, tetapi produksi tidak dihentikan. Pihaknya berupaya mengoptimalkan pembesaran larva dengan menyesuaikan kondisi yang ada.

Untuk menghadapi kemungkinan kekeringan yang berlangsung lebih lama dan meluas, Disnakkan Ciamis sejauh ini lebih mengutamakan langkah mitigasi melalui edukasi kepada pembudidaya.

“Kita hanya edukasi saja, mengantisipasi yang lebih ekstrem. Mitigasinya seperti apa apabila kondisi kekeringan melanda lebih lama dan lebih luas,” katanya.

Bantuan bagi pembudidaya juga tersedia melalui program pemerintah pusat, meski tidak seluruh pembudidaya mendapatkannya. Bantuan tersebut umumnya diberikan kepada kelompok yang mengajukan program melalui pemerintah pusat.

Baca Juga :  BAZNAS Ciamis Resmikan Kampung Zakat ke-15

Pembudidaya Diminta Kurangi Pemberian Pakan

Selain mengatur kepadatan ikan, pembudidaya juga diminta menyesuaikan jumlah pakan selama kondisi air terbatas.

Aris menjelaskan, pemberian pakan secara berlebihan pada kolam yang airnya tidak mengalir dapat memperburuk kualitas air. Karena itu, sebagian pembudidaya memilih mengurangi pemberian pakan untuk menyesuaikan kondisi ikan dan lingkungan kolam.

“Kalau terus-terusan dikasih pakan dengan kondisi air yang tidak mengalir bisa berbahaya juga. Jadi kebanyakan mengerem jumlah pemberian pakan,” ujarnya.

Kondisi kemarau juga membuat sebagian ikan, khususnya nila, mengalami kematian secara bertahap di sejumlah wilayah. Menurut Aris, salah satu penyebabnya adalah suhu yang ekstrem yang dapat menurunkan kadar oksigen di dalam air.

Kematian ikan tersebut tersebar di beberapa lokasi dan tidak terjadi dalam jumlah besar pada satu tempat. Karena itu, hingga kini belum ada laporan formal mengenai kematian ikan dalam skala besar.

“Kalau laporan secara formal langsung tidak ada karena memang bisa dibantu ditangani oleh para penyuluh perikanan di lokasi. Laporan sedikit ada kematian di sini, ada kematian di sini,” katanya.

Bukan Gagal Panen

Aris menegaskan kondisi yang terjadi saat ini belum dapat disebut sebagai gagal panen. Sebagian pembudidaya memilih menahan penjualan ikan karena harga jual mengalami penurunan.

Di sisi lain, pengeluaran untuk pakan juga cenderung ditekan karena pembudidaya menyesuaikan pemberian pakan dengan kondisi air dan kualitas ikan.

Disnakkan Ciamis bersama penyuluh perikanan terus melakukan pemantauan ke lapangan. Edukasi diberikan kepada kelompok pembudidaya mengenai pengelolaan air, kepadatan tebar, pemberian pakan, hingga langkah antisipasi jika kekeringan semakin parah.

Edukasi juga diberikan oleh petugas BBI ketika menyalurkan bantuan benih kepada kelompok pembudidaya.

“Ketika ke lapangan untuk monitoring, kita edukasi bahwa kondisi air seperti ini yang harus dijaga. Dari petugas BBI ketika penyaluran bantuan hibah juga langsung diedukasi. Para penyuluh perikanan juga melakukan hal yang sama,” pungkas Aris.

Sementara itu, Ibek, warga yang sebelumnya membudidayakan ikan, mengaku kini tidak lagi menjalankan usaha tersebut. Kondisi kolam yang mengering akibat musim kemarau membuatnya terpaksa menghentikan sementara kegiatan budidaya.

Menurut Ibek, ketersediaan air menjadi kendala utama. Kolam yang biasanya digunakan untuk memelihara ikan kini tidak dapat dimanfaatkan karena debit air terus berkurang hingga akhirnya mengering.

“Sekarang kolam sudah kering, jadi untuk sementara tidak membudidayakan ikan. Mau dipaksakan juga tidak memungkinkan karena airnya tidak ada,” ujar Ibek.

 

#AsajabarMemangBeda

Berita Terkait

Belanja Hemat di Tengah Kemarau, Warga Baregbeg Serbu Gerakan Pangan Murah
Pembinaan Anugerah Masjid Ramah II Ciamis Bidik Perubahan Cara Takmir Melayani Umat
BAZNAS Ciamis Resmikan Kampung Zakat ke-15
Kemenag Apresiasi Kontingen Ciamis Juara Umum Porseni Jabar, Potensi Madrasah Makin Diperhitungkan
Pramuka Garuda Dapat Prioritas, Kwarcab Kota Tasikmalaya Gandeng Sejumlah Kampus
Penasihat IPHI Ciamis Dorong Pembentukan UPZ untuk Optimalkan ZIS Jamaah Haji
Kemenag Ciamis Gelar Dzikir dan Doa Bersama, Perkuat Syukur Kemerdekaan dan Kerukunan
Kemenag Ciamis Ajak ASN Rawat Kerukunan Antarumat Beragama

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 17:54 WIB

Kemarau Panjang, 90 Persen Kolam Budidaya Ikan di Ciamis Terdampak Kekeringan

Kamis, 3 September 2026 - 16:50 WIB

Belanja Hemat di Tengah Kemarau, Warga Baregbeg Serbu Gerakan Pangan Murah

Rabu, 2 September 2026 - 18:00 WIB

Pembinaan Anugerah Masjid Ramah II Ciamis Bidik Perubahan Cara Takmir Melayani Umat

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:26 WIB

Kemenag Apresiasi Kontingen Ciamis Juara Umum Porseni Jabar, Potensi Madrasah Makin Diperhitungkan

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Pramuka Garuda Dapat Prioritas, Kwarcab Kota Tasikmalaya Gandeng Sejumlah Kampus

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:18 WIB

Penasihat IPHI Ciamis Dorong Pembentukan UPZ untuk Optimalkan ZIS Jamaah Haji

Minggu, 16 Agustus 2026 - 21:58 WIB

Kemenag Ciamis Gelar Dzikir dan Doa Bersama, Perkuat Syukur Kemerdekaan dan Kerukunan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 18:29 WIB

Kemenag Ciamis Ajak ASN Rawat Kerukunan Antarumat Beragama

Berita Terbaru

error: Content is protected !!