Berita Ciamis, Asajabar.com – Ribuan guru Raudhatul Athfal (RA) mengikuti kegiatan pembinaan dan workshop peningkatan kompetensi yang digelar di Gedung Islamic Center Ciamis, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Safe Character-Based Schools: Teaching with Heart, Inspiring with Love” atau sekolah aman berkarakter yang mendidik dengan hati dan menginspirasi dengan cinta.
Acara yang diinisiasi Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan Kelompok Kerja Guru Raudhatul Athfal (KKGRA) dan Kantor Kementerian Agama tersebut turut dihadiri Kepala Kemenag Ciamis H. Asep Lukman Hakim serta jajaran, termasuk Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad).
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penampilan siswa-siswi RA peraih juara tari dan nadzhom Asmaul Husna tingkat kabupaten. Selain itu, panitia turut menyerahkan trofi kepada para pemenang Festival Fikgura yang sebelumnya telah diselenggarakan oleh KKRA.
Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan berkarakter bagi anak usia dini.
“Kami ingin menghadirkan sekolah yang tidak hanya memberikan rasa aman dan nyaman, tetapi juga menanamkan nilai aqidah dan akhlak mulia melalui kasih sayang dan keceriaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan meliputi pembinaan dari Kepala Kemenag, sesi tahsin, pengembangan kreativitas seni tari anak, hingga penguatan pembelajaran nadzhom Asmaul Husna. Selain itu, materi tentang sekolah aman berkarakter juga disampaikan oleh narasumber dari KPAID Tasikmalaya dan praktisi pendidikan.
Menurutnya, kegiatan ini diikuti sekitar 1.500 peserta dari total anggota yang hampir mencapai 1.600 orang. Ia juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi guru RA, mulai dari keterbatasan kesejahteraan hingga pengaruh negatif konten digital terhadap anak.
“Guru RA perlu terus meningkatkan kompetensi karena tantangan semakin kompleks, termasuk dampak penggunaan gawai pada anak. Karena itu, kolaborasi dengan orang tua menjadi sangat penting,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan secara swadaya dengan konsep sederhana tanpa keterikatan dengan pihak tertentu agar tidak membebani sekolah.
Sementara itu, Kepala Kemenag Ciamis, H. Asep Lukman Hakim, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru merupakan bagian dari program berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pendidikan.
“Guru harus terus meningkatkan kualitas melalui pelatihan dan workshop. Ini juga menjadi salah satu syarat dalam pencairan tunjangan profesi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran RA dalam mendukung kebijakan wajib belajar 13 tahun. Menurutnya, pendidikan usia dini memiliki peran strategis dalam membentuk karakter serta kemampuan literasi dan numerasi anak sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar.
“Tantangan ke depan adalah bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan RA sangat penting dan memberikan manfaat nyata bagi perkembangan anak,” katanya.
Asep berharap organisasi profesi seperti KKRA dan KKGRA tidak hanya sekadar ada, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi anggotanya dan peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
“Kami ingin organisasi ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para guru dan mampu berkontribusi dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia,” pungkasnya.













