Berita Ciamis, Asajabar.com – SMA Negeri 1 Ciamis mengangkat kekayaan budaya Parahyangan melalui pentas seni dan kreativitas berbasis kearifan lokal dalam kegiatan EXSIS NISKALA 2026 bertema “Ngalanglang Rasa, Ngalanggeng Karya, Niskala Parahyangan”.
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, 26–27 Januari 2026, sebagai wadah ekspresi dan penguatan karakter siswa dalam mengenal, menggali, serta melestarikan budaya Sunda, khususnya budaya Parahyangan di Jawa Barat.
Pada hari kedua pelaksanaan, EXSIS NISKALA 2026 turut menghadirkan sejumlah seniman dari berbagai sanggar seni tari, teater, dan sastra. Selain itu, panitia juga mengundang Sakola Motekar, sebuah komunitas yang berfokus pada pelestarian budaya Sunda melalui edukasi dan eksplorasi kaulinan barudak atau permainan tradisional anak.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Ciamis, Jaen, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya sekolah dalam mengenalkan kembali budaya lokal yang mulai tergerus oleh pengaruh budaya luar.
“Sekarang ini kita cenderung melupakan budaya sendiri dan lebih mengutamakan budaya luar. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengenalkan kembali serta menggali kearifan lokal dan kekayaan budaya Parahyangan, khususnya di bidang seni Sunda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap kelas diberikan kebebasan untuk mengangkat cerita budaya yang berbeda, seperti Seren Taun, Sekar Sunda, hingga legenda Mundinglaya di Kusumah. Penentuan tema tersebut dilakukan agar tidak terjadi kesamaan antarkelas serta mendorong siswa untuk benar-benar mempelajari budaya yang ditampilkan.
“Seluruh konsep pertunjukan, mulai dari ide cerita hingga properti, sepenuhnya digagas oleh siswa. Kreativitas mereka sangat terlihat karena semuanya disesuaikan dengan cerita yang diangkat,” jelasnya.
Menurut Jaen, kegiatan ini melibatkan seluruh jenjang kelas. Kelas XII menampilkan pagelaran seni yang terintegrasi dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, sementara kelas XI mengelola stand makanan sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan. Adapun kelas X mengikuti kegiatan ini sebagai sarana pembelajaran dan inspirasi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pelestarian budaya Jawa Barat sejalan dengan nilai Panca Waluya, yakni cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer, yang menjadi fondasi pembentukan karakter generasi muda.
“Jika kita ingin menjaga karakter generasi, maka kita harus kembali pada kearifan lokal. Budaya kita sangat kaya, mulai dari nilai sopan santun, kepedulian terhadap lingkungan, hingga karakter sosial. Semua itu perlu ditanamkan melalui pendidikan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi secara bijak agar tidak menggerus jati diri budaya bangsa.
“Kita harus mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kita, bukan justru menjadi korban teknologi. Dengan begitu, kita tetap memiliki jati diri, budaya, dan kearifan lokal di tengah arus budaya luar,” pungkasnya.













