Berita Ciamis, Asajabar.com – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Training of Trainers (ToT) peningkatan kapasitas edukasi keuangan bagi penyuluh agama, di Aula Kemenag Ciamis, Selasa (7/4/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 160 peserta yang terdiri dari penyuluh agama dan tenaga pendukung lainnya, sebagai upaya memperluas edukasi literasi keuangan di tengah masyarakat.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Ciamis, Dr. H. Mohamad Aip Maftuh, S.Ag., M.Pd., mengatakan pelatihan ini bertujuan membekali penyuluh agar mampu menyampaikan pemahaman pengelolaan keuangan kepada masyarakat secara benar.
“Tujuan utamanya agar para penyuluh dapat mengomunikasikan materi literasi keuangan kepada masyarakat, sehingga masyarakat lebih memahami pengelolaan ekonomi secara legal dan logis,” ujarnya.
Ia menambahkan, literasi keuangan juga menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat, seperti maraknya pinjaman online ilegal, judi online, praktik “bank emok”, hingga investasi bodong.
Menurutnya, penyuluh agama dipilih sebagai sasaran pelatihan karena memiliki peran strategis sebagai garda terdepan yang rutin berinteraksi dengan masyarakat.
“Penyuluh memiliki efek pengganda (multiplier effect). Mereka aktif di berbagai forum, sehingga edukasi bisa dilakukan secara masif dan berkelanjutan,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam penguatan literasi keuangan, di antaranya keterbatasan sumber daya manusia yang fokus pada edukasi, pendekatan yang masih parsial, serta kapasitas penyuluh yang perlu terus ditingkatkan.
“Karena itu, pelatihan ini penting agar mereka memiliki bekal pengetahuan yang utuh dan terstruktur sebelum terjun memberikan edukasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Aip Maftuh menekankan pentingnya literasi keuangan dalam membangun ketahanan keluarga. Ia menyebut faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama konflik hingga perceraian.
“Banyak kasus perceraian dipicu masalah ekonomi dan nafkah. Dengan literasi keuangan yang baik, diharapkan kualitas keluarga meningkat dan tercipta keluarga yang sakinah,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten Manager OJK Tasikmalaya, Andriani Alfiah Kurnia, mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan edukasi keuangan kepada masyarakat, salah satunya melalui kolaborasi dengan Kemenag.
“Penyuluh agama kami nilai strategis karena satu orang bisa membina hingga ratusan masyarakat. Ini akan memperluas jangkauan edukasi secara signifikan,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari OJK, Bank BJB Kantor Pusat, dan Permodalan Nasional Madani (PNM).
Materi dari OJK mencakup pengenalan lembaga serta kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal dan berbagai modus penipuan. Sementara Bank BJB memberikan pemahaman terkait produk dan layanan perbankan, termasuk tips memilih produk keuangan yang tepat bagi calon pengantin.
Adapun PNM memberikan edukasi mengenai sektor pembiayaan non-bank, sekaligus membantu peserta memahami perbedaan antara lembaga resmi dan praktik pinjaman tidak legal.
OJK juga menyoroti masih rendahnya tingkat literasi keuangan dibandingkan inklusi keuangan di Indonesia. Artinya, masyarakat sudah banyak menggunakan produk keuangan, namun belum sepenuhnya memahami manfaat dan risikonya.
“Tantangan saat ini adalah derasnya arus informasi di era digital yang tidak semuanya akurat. Karena itu, edukasi langsung seperti ini menjadi sangat penting,” jelas Andriani.
Melalui program ToT ini, OJK berharap tercipta efek berantai, di mana para penyuluh dapat menyebarluaskan pemahaman literasi keuangan kepada masyarakat luas.
“Tujuan akhirnya adalah memperkuat perlindungan konsumen dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kabupaten Ciamis,” tandasnya.













