Berita Ciamis, Asajabar.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kawali terus berupaya mengoptimalkan pelayanan kesehatan meski masih menghadapi keterbatasan tenaga perawat.
Kepala Seksi Keperawatan RSUD Kawali, Santi Setiawan, S.Kep., Ners., mengatakan bahwa secara umum pelayanan keperawatan berjalan kondusif dengan dukungan kerja sama tim yang baik.
“Selama ini kondisi masih kondusif. Jika ada kekosongan di satu unit, seperti ICU, perawat bisa membantu di unit lain seperti IGD untuk menutupi kekurangan,” ujar Santi.
Ia menjelaskan bahwa saat ini RSUD Kawali memiliki sekitar 71 perawat yang berstatus ASN dan PPPK, 19 bidan, 4 bidan kontrak BLUD, serta 49 tenaga non-ASN yang merupakan pegawai kontrak BLUD.
Namun demikian, keterbatasan jumlah tenaga masih menjadi tantangan, terutama dalam sistem kerja shift. Idealnya, setiap shift diisi tiga perawat, tetapi saat ini masih terdapat unit yang hanya diisi dua perawat tanpa tenaga cadangan.
“Kondisi ini terasa saat ada perawat yang cuti, seperti cuti melahirkan, sehingga tidak ada back up. Tapi dengan kondisi yang ada, pelayanan tetap berjalan dan terus dioptimalkan,” jelasnya.
Santi mengakui, kebutuhan tenaga perawat masih cukup besar. Berdasarkan perencanaan kebutuhan (Renbut), RSUD Kawali diperkirakan masih membutuhkan sekitar 45 perawat tambahan untuk menunjang pelayanan yang ada saat ini.
Meski demikian, pihaknya tetap berupaya meningkatkan kualitas pelayanan melalui penguatan kompetensi tenaga perawat. Hal ini penting, terutama dalam mendukung kerja sama dengan BPJS Kesehatan agar layanan dapat diklaim sesuai ketentuan.
“Peningkatan kompetensi itu wajib. Misalnya untuk layanan ICU, sebelumnya kami memberangkatkan dua perawat untuk pelatihan agar ICU bisa beroperasi. Alhamdulillah sekarang sudah berjalan lebih dari satu tahun,” katanya.
Ke depan, RSUD Kawali juga berencana kembali mengirimkan tenaga perawat untuk pelatihan lanjutan, yang dijadwalkan pada Mei mendatang.
Selain pelatihan eksternal, peningkatan kompetensi juga dilakukan secara rutin melalui in house training (IHT).
“Untuk pelatihan internal cukup rutin dilakukan. Narasumbernya juga sudah tersedia dari internal rumah sakit,” tambahnya.
Dari sisi inovasi pelayanan, Santi menyebutkan bahwa pengembangan lebih banyak datang dari lintas unit, salah satunya inovasi dari bagian farmasi yang memanfaatkan aplikasi untuk mengurangi antrean pengambilan obat.
“Dengan aplikasi itu, pasien bisa memantau status obatnya, apakah sudah siap diambil atau belum, sehingga tidak terjadi penumpukan,” jelasnya.
Terkait keluhan pasien, Santi mengakui bahwa keluhan tetap ada, terutama terkait persepsi sikap perawat yang terkadang dianggap kurang ramah. Namun, pihaknya selalu berupaya menampung dan menindaklanjuti setiap keluhan yang masuk.
“Kami memiliki portal pengaduan resmi, meski banyak pasien yang lebih memilih menyampaikan langsung. Semua keluhan tetap kami terima dan evaluasi,” katanya.
Ia juga menambahkan, kondisi psikologis pasien maupun keluarga yang mendampingi sering kali memengaruhi persepsi terhadap pelayanan.
“Pasien dan keluarga yang datang biasanya dalam kondisi tidak nyaman secara psikologis, sehingga lebih sensitif. Itu yang juga menjadi perhatian kami dalam meningkatkan pelayanan,” ujarnya.
Ke depan, RSUD Kawali berharap dapat memiliki tenaga perawat dengan kompetensi yang semakin baik, sejalan dengan visi pelayanan rumah sakit.
“Harapannya, perawat kami bisa benar-benar menjadi sahabat masyarakat dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal menuju masyarakat yang sehat,” pungkas Santi.













