Kucing Mati Akibat Skabies Akut, Disnakkan Ciamis Ingatkan Bahaya Zoonosis pada Manusia

- Redaktur

Kamis, 6 Agustus 2026 - 12:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seekor kucing milik Ibek, warga Sindangkasih, Ciamis, ditemukan meninggal dunia akibat penyakit skabies akut.

Seekor kucing milik Ibek, warga Sindangkasih, Ciamis, ditemukan meninggal dunia akibat penyakit skabies akut.

Berita Ciamis, Asajabar.com – Seorang pemilik kucing di Kabupaten Ciamis dibuat terkejut setelah hewan peliharaannya mengalami gangguan kulit yang ditandai munculnya kerak dan benjolan menyerupai jamur di bagian telinga hingga wajah. Kondisi tersebut terus memburuk hingga kucing tersebut akhirnya mati.

Menanggapi kasus tersebut, Ketua Kelompok Kerja Kesehatan Hewan (Pokja Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis, Budiono, menjelaskan bahwa gejala tersebut merupakan skabies akut, yaitu penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi parasit tungau.

“Skabies merupakan penyakit kulit yang sangat menimbulkan rasa gatal. Pada hewan, rasa gatal tersebut membuatnya terus menggaruk sehingga luka semakin meluas. Penyakit ini juga termasuk zoonosis, artinya dapat menular kepada manusia,” ujar Budiono.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa skabies pada manusia umumnya hanya menyebabkan gangguan kulit berupa rasa gatal dan bukan penyakit yang membahayakan jiwa.

Menurut Budiono, penyebab utama penyebaran skabies adalah kurangnya kebersihan lingkungan dan kontak langsung dengan hewan yang telah terinfeksi. Pada kucing liar, penularan sering terjadi akibat kontak antarkucing, seperti saat berkelahi. Sementara pada kucing peliharaan, penularan dapat terjadi melalui peralatan yang digunakan bersama, seperti handuk atau perlengkapan perawatan yang tidak dibersihkan dengan baik.

Baca Juga :  Tokoh Agama Ciamis Ajak Santri Perkuat Iman, Kuasai Ilmu, dan Adaptif terhadap Teknologi

“Bagian tubuh yang minim bulu, seperti telinga, wajah, atau area kulit lainnya, lebih mudah terserang skabies karena tungau lebih mudah berkembang di bagian tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, gejala awal skabies pada kucing biasanya ditandai dengan kerontokan bulu pada area tertentu, munculnya kulit yang botak, kemudian disusul bintik-bintik dan luka akibat garukan yang terus-menerus.

Pemilik hewan juga diminta waspada apabila kucing mulai sering menggaruk bagian tubuh tertentu secara berlebihan karena hal tersebut dapat menjadi tanda awal infeksi skabies.

Budiono menambahkan, skabies sebenarnya bukan penyakit yang mematikan. Namun, apabila tidak segera ditangani, rasa gatal yang berlebihan dapat menyebabkan hewan mengalami stres, gangguan metabolisme, kehilangan nafsu makan, hingga kondisi tubuh melemah. Dalam kasus yang parah, kondisi tersebut dapat berujung pada kematian.

“Yang menyebabkan kematian bukan skabiesnya secara langsung, melainkan kondisi tubuh hewan yang terus menurun karena tidak mau makan akibat rasa gatal yang sangat berat,” jelasnya.

Baca Juga :  Permudah Urusan Pertanahan, Kantah Ciamis Hadirkan Layanan ATR/BPN Dekat di Ruang Publik

Masyarakat agar segera membawa hewan peliharaan yang menunjukkan gejala skabies ke dokter hewan atau Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).

Menurutnya, pengobatan dengan obat antiparasit umumnya cukup dilakukan melalui dua kali penyuntikan dengan jeda sekitar dua minggu, dan sebagian besar hewan dapat sembuh dalam waktu sekitar satu bulan.

“Di klinik Puskeswan, pelayanan pengobatan skabies pada hewan dapat dilakukan secara gratis. Masyarakat cukup membawa hewan peliharaannya untuk diperiksa,” ujarnya.

Untuk kasus yang masih ringan, masyarakat juga dapat menggunakan salep atau obat semprot antiparasit sesuai anjuran dokter hewan. Namun, apabila kondisi kulit sudah parah, penanganan medis menjadi pilihan terbaik.

Selain menyerang kucing, penyakit skabies juga dapat ditemukan pada anjing dan domba, meski kasus pada sapi relatif jarang terjadi.

Di akhir keterangannya, Budiono mengimbau masyarakat agar selalu menjaga kebersihan hewan peliharaan beserta lingkungan kandangnya sebagai langkah utama mencegah penyebaran skabies.

“Hewan peliharaan harus dirawat dengan baik. Sayangilah hewan sebagaimana kita menyayangi diri sendiri. Dengan menjaga kebersihan, penyakit seperti skabies dapat dicegah,” pungkasnya.

Berita Terkait

Data PUS Ciamis Capai 181.542 Pasangan, Angka Infertilitas Tak Bisa Dihitung Langsung
Anggaran PMT Lokal di Ciamis Capai Rp5,42 Miliar
Disnakkan Ciamis Anggarkan Ratusan Juta untuk Obat, Jasmed hingga Penanganan Zoonosis
Pemkot Tasikmalaya Sebut Kemiskinan Jadi Faktor Utama Tingginya Kasus Stunting
BPJS Kesehatan Sosialisasikan Pendaftaran JKN bagi Relawan SPPG Kota Tasikmalaya
DKP3 Kampanyekan Gerakan Minum Susu di MTsN 3 Kota Tasikmalaya
RSUD Ciamis Maksimalkan Layanan IGD dan Tim Medis Selama Libur Lebaran
Balita di Indramayu Dirawat Usai Alami Gangguan Kesehatan Setelah Konsumsi Paket MBG

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:27 WIB

Tim Bulu Tangkis ATR/BPN Sabet Runner-up di Turnamen Kementan

Senin, 2 November 2026 - 19:21 WIB

Permudah Urusan Pertanahan, Kantah Ciamis Hadirkan Layanan ATR/BPN Dekat di Ruang Publik

Senin, 2 November 2026 - 16:41 WIB

Menteri Nusron Minta Pejabat ATR/BPN Tidak Persulit Masyarakat, Utamakan Pelayanan dan Integritas

Senin, 2 November 2026 - 16:36 WIB

Permudah Akses Masyarakat, ATR/BPN Aktifkan Kembali Mobil Layanan Keliling di Enam Provinsi

Senin, 2 November 2026 - 16:25 WIB

Wamen ATR/BPN Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Berkolaborasi Wujudkan Visi Kota 2045

Senin, 2 November 2026 - 16:20 WIB

Lampaui Target 192 Persen, Pendaftaran Tanah Ulayat ATR/BPN Jangkau 20 Provinsi

Senin, 2 November 2026 - 11:37 WIB

Perkuat Kepastian Hukum, ATR/BPN Percepat Sertipikasi Tanah Wakaf dan Rumah Ibadah

Senin, 2 November 2026 - 11:32 WIB

ATR/BPN Targetkan Pendaftaran Tanah 4,8 Juta Hektare melalui Program ILASPP 2025–2029

Berita Terbaru

error: Content is protected !!