Nusron Wahid Dorong Kampus Jadi Ruang Pertukaran Gagasan

- Redaktur

Selasa, 8 September 2026 - 19:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berita Sleman, asajabar.com – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik.

Menurut Nusron, keberagaman pemikiran perlu mendapat ruang di lingkungan kampus karena dapat memperkaya wawasan sekaligus mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis.

Hal itu disampaikan Nusron saat memberikan sambutan dalam kuliah umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut turut menghadirkan Rocky Gerung sebagai narasumber.

“Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara, termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Nusron.

Ia menilai perbedaan pemikiran tidak seharusnya dihindari. Sebaliknya, pertukaran gagasan dapat membuka perspektif baru dan memperkaya pemahaman setiap orang.

Nusron menggambarkan pentingnya pertukaran gagasan melalui analogi “filsafat apel” yang dikaitkannya dengan pemikiran Bernard Shaw.

“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelasnya.

Baca Juga :  Beli Tanah Jangan Berhenti di AJB, ATR/BPN Ingatkan Pentingnya Daftar Peralihan Hak

Menurut Nusron, hal berbeda terjadi ketika yang dipertukarkan adalah pemikiran. Dua orang dengan gagasan berbeda justru dapat memperoleh tambahan perspektif setelah saling berbagi pandangan.

“Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tuturnya.

Ia berharap tradisi kuliah umum dan dialektika berpikir di Politeknik Agraria STPN dapat terus dikembangkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk bertukar pendapat dan memperluas wawasan.

“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” kata Nusron.

Kuliah umum tersebut mengusung tema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan”. Rocky Gerung hadir sebagai pembicara dan menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya perdebatan dalam proses pertukaran pemikiran.

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky.

Di hadapan para taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN, Rocky juga menjelaskan pendekatan filosofis yang digunakannya untuk mengajak peserta melihat kembali akar dari berbagai konsep dan pemikiran.

Baca Juga :  Tina Wiryawati Dukung Pengesahan RUU Perampasan Aset bagi Koruptor

“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” katanya.

Dalam kuliah umum tersebut, Rocky juga menyampaikan tiga konsep mengenai pemaknaan tanah. Menurutnya, bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur.

Sementara bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Adapun bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.

Kegiatan tersebut diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN.

Melalui kuliah umum tersebut, perbedaan perspektif mengenai tanah, negara, dan masyarakat diharapkan dapat menjadi bagian dari proses akademik untuk memperluas wawasan serta mendorong mahasiswa berpikir kritis dalam memahami persoalan pertanahan.

Berita Terkait

Rocky Gerung Ungkap Tiga Konsep dalam Memaknai Tanah
Rocky Gerung Soroti Luasnya Persoalan Pertanahan, dari Hukum hingga Ekologi
Tina Wiryawati Dukung Pengesahan RUU Perampasan Aset bagi Koruptor
Sertipikasi Tanah MBR Jadi Langkah Awal Program Tiga Juta Rumah di Banjar
Sertipikasi Tanah MBR Jadi Langkah Awal Program Tiga Juta Rumah di Banjar
Urus Tanah Warisan Jadi Lebih Mudah, Warga Cipinang Rasakan Manfaat Pengukuran Terjadwal
Ossy Dermawan Tekankan Sinergi Lintas Sektor dalam Penyusunan RUU Reforma Agraria
Sekjen ATR/BPN Tekankan Kolaborasi Jajaran untuk Sukseskan Transformasi ATR/BPN

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 16:21 WIB

OMI 2026 Tingkat Kabupaten Ciamis Diikuti 1.263 Peserta, 11 Siswa Sekolah Umum Turut Berlomba

Sabtu, 5 September 2026 - 19:12 WIB

TAMADA 2026 UI Darussalam Diikuti 538 Mahasiswa, 157 di Antaranya Penerima Beasiswa dari Aceh

Kamis, 3 September 2026 - 06:50 WIB

IGRA Ciamis Targetkan Guru RA Lebih Inovatif dan Berdaya Saing

Rabu, 2 September 2026 - 20:24 WIB

KKRA Jawa Barat Apresiasi KKRA Ciamis, Seminar Parenting Dinilai Layak Jadi Contoh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:33 WIB

KKRA Baregbeg Dorong Orang Tua dan Guru Bersinergi Membentuk Anak Berkarakter

Jumat, 28 Agustus 2026 - 07:49 WIB

FTBI SD Ciamis Jadi Ajang Pelajar Asah Kemampuan Bahasa dan Sastra Sunda

Selasa, 25 Agustus 2026 - 15:32 WIB

Borong 27 Medali, Kontingen Ciamis Sabet Juara Umum Porseni Madrasah Tingkat Jabar 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Kontingen Ciamis Bidik Juara Umum Porseni Madrasah Jabar 2026

Berita Terbaru

Nasional

Rocky Gerung Ungkap Tiga Konsep dalam Memaknai Tanah

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:01 WIB

Nasional

Nusron Wahid Dorong Kampus Jadi Ruang Pertukaran Gagasan

Selasa, 8 Sep 2026 - 19:39 WIB

error: Content is protected !!