Berita Ciamis, Asajabar.com – Seorang pemilik kucing di Kabupaten Ciamis dibuat terkejut setelah hewan peliharaannya mengalami gangguan kulit yang ditandai munculnya kerak dan benjolan menyerupai jamur di bagian telinga hingga wajah. Kondisi tersebut terus memburuk hingga kucing tersebut akhirnya mati.
Menanggapi kasus tersebut, Ketua Kelompok Kerja Kesehatan Hewan (Pokja Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis, Budiono, menjelaskan bahwa gejala tersebut merupakan skabies akut, yaitu penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi parasit tungau.
“Skabies merupakan penyakit kulit yang sangat menimbulkan rasa gatal. Pada hewan, rasa gatal tersebut membuatnya terus menggaruk sehingga luka semakin meluas. Penyakit ini juga termasuk zoonosis, artinya dapat menular kepada manusia,” ujar Budiono.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa skabies pada manusia umumnya hanya menyebabkan gangguan kulit berupa rasa gatal dan bukan penyakit yang membahayakan jiwa.
Menurut Budiono, penyebab utama penyebaran skabies adalah kurangnya kebersihan lingkungan dan kontak langsung dengan hewan yang telah terinfeksi. Pada kucing liar, penularan sering terjadi akibat kontak antarkucing, seperti saat berkelahi. Sementara pada kucing peliharaan, penularan dapat terjadi melalui peralatan yang digunakan bersama, seperti handuk atau perlengkapan perawatan yang tidak dibersihkan dengan baik.
“Bagian tubuh yang minim bulu, seperti telinga, wajah, atau area kulit lainnya, lebih mudah terserang skabies karena tungau lebih mudah berkembang di bagian tersebut,” katanya.
Ia menjelaskan, gejala awal skabies pada kucing biasanya ditandai dengan kerontokan bulu pada area tertentu, munculnya kulit yang botak, kemudian disusul bintik-bintik dan luka akibat garukan yang terus-menerus.
Pemilik hewan juga diminta waspada apabila kucing mulai sering menggaruk bagian tubuh tertentu secara berlebihan karena hal tersebut dapat menjadi tanda awal infeksi skabies.
Budiono menambahkan, skabies sebenarnya bukan penyakit yang mematikan. Namun, apabila tidak segera ditangani, rasa gatal yang berlebihan dapat menyebabkan hewan mengalami stres, gangguan metabolisme, kehilangan nafsu makan, hingga kondisi tubuh melemah. Dalam kasus yang parah, kondisi tersebut dapat berujung pada kematian.
“Yang menyebabkan kematian bukan skabiesnya secara langsung, melainkan kondisi tubuh hewan yang terus menurun karena tidak mau makan akibat rasa gatal yang sangat berat,” jelasnya.
Masyarakat agar segera membawa hewan peliharaan yang menunjukkan gejala skabies ke dokter hewan atau Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).
Menurutnya, pengobatan dengan obat antiparasit umumnya cukup dilakukan melalui dua kali penyuntikan dengan jeda sekitar dua minggu, dan sebagian besar hewan dapat sembuh dalam waktu sekitar satu bulan.
“Di klinik Puskeswan, pelayanan pengobatan skabies pada hewan dapat dilakukan secara gratis. Masyarakat cukup membawa hewan peliharaannya untuk diperiksa,” ujarnya.
Untuk kasus yang masih ringan, masyarakat juga dapat menggunakan salep atau obat semprot antiparasit sesuai anjuran dokter hewan. Namun, apabila kondisi kulit sudah parah, penanganan medis menjadi pilihan terbaik.
Selain menyerang kucing, penyakit skabies juga dapat ditemukan pada anjing dan domba, meski kasus pada sapi relatif jarang terjadi.
Di akhir keterangannya, Budiono mengimbau masyarakat agar selalu menjaga kebersihan hewan peliharaan beserta lingkungan kandangnya sebagai langkah utama mencegah penyebaran skabies.
“Hewan peliharaan harus dirawat dengan baik. Sayangilah hewan sebagaimana kita menyayangi diri sendiri. Dengan menjaga kebersihan, penyakit seperti skabies dapat dicegah,” pungkasnya.













