Berita Ciamis, Asajabar.com – Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kabupaten Ciamis sukses menyelenggarakan berbagai perlombaan antar sekolah RA tingkat kabupaten selama bulan suci Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Elbas Ciamis pada Jumat (13/3/2026).
Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, M.Pd.I., menjelaskan bahwa rangkaian lomba diawali dari tingkat sekolah. Pada lomba kreasi menggambar dan mewarnai hihid (kipas tradisional Sunda), setiap sekolah menyeleksi peserta terlebih dahulu sebelum dikirim ke tingkat kecamatan.
“Setiap sekolah menyeleksi peserta, kemudian diambil satu anak dari lima peserta untuk maju ke tingkat kecamatan. Dari tingkat kecamatan dilakukan penilaian per zona untuk memudahkan juri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem penilaian tahun ini mengalami perubahan. Dari setiap 100 peserta akan dipilih enam pemenang untuk melaju ke tingkat kabupaten. Jika jumlah peserta mencapai 200 atau 300 orang, maka jumlah pemenang akan disesuaikan secara proporsional sebelum akhirnya berkompetisi di tingkat kabupaten.
Di tingkat kabupaten, panitia menetapkan juara 1 hingga 6 serta tambahan 12 juara favorit.
Menurut Lalis, lomba mewarnai hihid dipilih karena memiliki nilai budaya sekaligus mendukung pengenalan kearifan lokal kepada anak usia dini. Hihid merupakan kipas tradisional berbahan bambu yang banyak diproduksi oleh pelaku UMKM di wilayah Jawa Barat.
“Melalui lomba ini kami ingin mengenalkan kearifan lokal kepada anak-anak sejak dini. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung para pengrajin hihid yang tersebar di berbagai daerah seperti Panjalu dan Tasikmalaya,” katanya.
Selain lomba mewarnai hihid, KKRA juga menggelar sejumlah perlombaan lainnya, seperti lomba salat berjamaah, tari kreasi, dan hafalan Asmaul Husna. Lomba salat berjamaah bertujuan menanamkan kedisiplinan kepada anak-anak sejak dini.
“Jika anak disiplin dalam salat, insyaallah akan berdampak pada perilaku lainnya. Anak-anak dilatih menjadi imam dan makmum agar memahami rukun serta bacaan salat,” jelasnya.
Sementara itu, lomba tari kreasi diperuntukkan bagi peserta perempuan yang menampilkan ekspresi seni dan kreativitas. Sedangkan lomba Asmaul Husna dilaksanakan untuk menguatkan kebiasaan anak-anak dalam melantunkan dan menghafal nama-nama Allah yang selama ini diajarkan di sekolah.
Beberapa perlombaan dilaksanakan secara daring dengan mekanisme pengiriman video melalui platform YouTube. Peserta diminta merekam penampilan mereka tanpa proses pengeditan dan hanya satu kali pengambilan gambar.
Dari hasil penilaian, panitia menerima sekitar 200 tautan video dari berbagai kategori lomba. Lomba tari menjadi yang paling banyak diminati dengan sekitar 70 peserta, diikuti lomba salat berjamaah sekitar 60 peserta dan lomba Asmaul Husna sekitar 50 peserta.
Meski demikian, pelaksanaan lomba daring juga menghadapi sejumlah kendala, di antaranya keterbatasan jaringan internet serta kemampuan masing-masing sekolah dalam melatih peserta.
“Tidak semua dari sekitar 400 RA memiliki akses internet yang memadai. Selain itu, tingkat kemampuan dalam melatih anak juga berbeda-beda, sehingga kualitas penampilan peserta pun beragam,” ungkapnya.
Meski begitu, Lalis mengaku bangga dengan antusiasme peserta dan dukungan orang tua. Bahkan, jumlah karya lomba mewarnai hihid yang terkumpul meningkat signifikan dari target awal 4.000 menjadi sekitar 8.000 karya.
Ia berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang karena mampu menumbuhkan kreativitas, kepercayaan diri, serta kedisiplinan anak-anak.
“Harapan kami ke depan anak-anak semakin kreatif menuangkan ide, hubungan antara orang tua dan anak semakin dekat, serta guru dapat terus berinovasi dalam membimbing peserta didik,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, KKRA Ciamis juga berharap anak-anak RA dapat tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, berprestasi, serta mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki sejak usia dini.













