BERITA CIAMIS, ASAJABAR.COM – Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, menggelar seminar parenting bagi orang tua dan wali murid RA se-Kecamatan Panumbangan, Kamis (5/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Dakwah Panumbangan tersebut diikuti sebanyak 633 orang tua dan wali murid dari 18 lembaga RA.
Seminar mengusung tema “Menuju RA Aman Berkarakter, Sekolah Ramah Akhlak dan Moral”. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua dan tenaga pendidik mengenai pola pengasuhan anak, pembentukan karakter, serta upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak.
Hadir sebagai narasumber, Dede Sundara, S.I.Kom., CHT. Dalam pemaparannya, ia memberikan edukasi mengenai pentingnya pola pengasuhan yang tepat, perlindungan anak, serta pencegahan perundungan (bullying) sejak usia dini.
Ketua KKRA Kecamatan Panumbangan, Titing Yeni, mengatakan seminar parenting tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengubah kebiasaan lama dalam pola pengasuhan anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Menurutnya, pembentukan karakter anak membutuhkan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Salah satunya melalui kegiatan sederhana, seperti membiasakan anak bercerita, mendengarkan dongeng, serta membangun komunikasi positif antara orang tua dan anak.
“Intinya, kami ingin mengubah kebiasaan lama. Pembentukan karakter harus dilakukan melalui pembiasaan secara terus-menerus, seperti membiasakan anak berkisah, bercerita, dan mendongeng,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pengaruh penggunaan gawai atau gadget yang menjadi salah satu tantangan dalam mendidik anak saat ini. Menurutnya, anak-anak dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi dan konten yang belum sesuai dengan usia mereka.
Karena itu, diperlukan perhatian dan pendampingan lebih dari orang tua agar anak tidak terpapar konten negatif yang dapat memengaruhi perkembangan karakter dan perilakunya.
Titing berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata. Sebaliknya, seminar parenting harus menjadi awal terbangunnya komunikasi dan kerja sama yang berkelanjutan antara pihak sekolah dengan orang tua.
Terkait pencegahan bullying, ia menekankan pentingnya perhatian guru terhadap setiap peserta didik. Guru diharapkan mampu memahami karakter dan kondisi masing-masing anak sehingga potensi perundungan dapat dideteksi dan dicegah sejak dini.
“Kami berharap setelah kegiatan ini, para guru semakin memperhatikan anak didiknya. Begitu juga orang tua agar memberikan kasih sayang yang sesungguhnya kepada anak-anak,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengapresiasi antusiasme para orang tua yang mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, berbagai pertanyaan dan keluhan yang disampaikan peserta menunjukkan bahwa orang tua membutuhkan pendampingan dalam memahami pola pengasuhan anak.
Salah satu persoalan yang banyak disampaikan adalah bagaimana mengelola emosi ketika menghadapi perilaku anak di rumah, terutama saat anak bermain dan membuat kondisi rumah berantakan, sementara orang tua juga memiliki aktivitas dan pekerjaan yang melelahkan.
Melalui materi yang disampaikan narasumber, orang tua diajak mengubah sudut pandang dalam menghadapi perilaku anak. Kondisi rumah yang berantakan akibat aktivitas anak seharusnya tidak selalu dipandang sebagai persoalan, melainkan bagian dari proses tumbuh kembang mereka.
Hj. Lalis juga menekankan pentingnya membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Salah satu pembiasaan yang dianjurkan adalah memberikan pelukan kepada anak sebelum berangkat sekolah agar mereka merasa dicintai, aman, dan bahagia.
Ia kemudian menyampaikan lima kebiasaan positif yang perlu diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun karakter dan kedekatan emosional dengan anak.
“Yang pertama, antarkan anak dengan hati, dengan tersenyum bahagia. Kedua, peluk anak dan tempelkan pipi selama kurang lebih 20 detik. Hal sederhana ini menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang membuat anak merasa dicintai dan diperhatikan,” jelas Hj. Lalis.
Ketiga, ia mengingatkan orang tua agar selalu menyelipkan nama Allah SWT dalam setiap aktivitas. Dengan begitu, nilai-nilai keagamaan dapat ditanamkan sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari.
Keempat, orang tua harus membiasakan diri bertanya dan mendengarkan cerita anak. Menurutnya, komunikasi yang baik bukan hanya tentang memberikan nasihat, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pengalaman dan perasaannya.
Orang tua juga dianjurkan membiasakan kegiatan berkisah setiap malam Senin sebagai salah satu cara membangun kedekatan sekaligus menanamkan nilai-nilai keteladanan kepada anak.
Kelima, orang tua perlu mengasah kemandirian anak dengan memberikan tanggung jawab sederhana sesuai usianya. Selain itu, anak juga perlu diajarkan bagaimana menjaga dan melindungi anggota tubuhnya sebagai bagian dari edukasi perlindungan diri sejak dini.
Selain lima kebiasaan tersebut, orang tua juga didorong membiasakan kegiatan bercerita, mengenalkan kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW, serta memberikan tanggung jawab sederhana kepada anak sesuai usianya, seperti membantu mengepel atau mencuci piring.
Menariknya, dalam seminar tersebut juga diperkenalkan konsep “Buku Rapor Orang Tua” sebagai instrumen evaluasi pembiasaan positif di lingkungan keluarga.
Melalui buku tersebut, orang tua diajak melakukan refleksi dan mencatat kegiatan pengasuhan sehari-hari, di antaranya apakah anak sudah mendapatkan pelukan, apakah orang tua telah meluangkan waktu untuk bercerita bersama anak, serta apakah anak sudah diberikan tanggung jawab sederhana di rumah.
Pelaksanaan pembiasaan tersebut nantinya dapat dipantau dan dievaluasi oleh guru secara berkala untuk melihat perkembangan anak sekaligus memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah.
Lebih lanjut, Hj. Lalis juga menyoroti penggunaan telepon genggam oleh tenaga pendidik selama kegiatan belajar mengajar. Menurutnya, penggunaan gawai oleh guru perlu dikelola secara bijak agar tidak mengganggu proses pembelajaran maupun menjadi contoh kurang baik bagi peserta didik.
Ia memahami bahwa saat ini guru memiliki berbagai tuntutan administrasi dan tugas kedinasan yang mengharuskan penggunaan telepon genggam. Namun, penggunaan perangkat tersebut tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak mengurangi perhatian terhadap anak didik.
Ia berharap lembaga RA di Kabupaten Ciamis semakin mendapatkan kepercayaan masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang mampu memberikan perlindungan sekaligus membentuk karakter, moral, dan akhlak anak sejak usia dini.
“Harapan kami, RA mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat. Orang tua harus yakin bahwa anak-anak yang bersekolah di RA berada dalam lingkungan yang aman serta mendapatkan pendidikan karakter, moral, dan akhlak yang baik,” pungkasnya.













