Berita Ciamis, Asajabar.com – Peran orang tua dinilai menjadi faktor utama dalam membentuk karakter anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Berangkat dari kondisi tersebut, Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kecamatan Sadananya menggelar Seminar Parenting bertema “Menuju Sekolah Aman Berkarakter” dengan menghadirkan narasumber dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Tasikmalaya.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 350 wali murid dari 10 Raudhatul Athfal (RA) se-Kecamatan Sadananya sebagai bagian dari penguatan sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Ketua KKRA Kecamatan Sadananya, Elis Fitriah Mukaromah, mengatakan seminar parenting digelar untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya pendidikan keluarga sebagai fondasi pembentukan akidah dan karakter anak.
Menurutnya, kegiatan ini juga bertujuan membangun kolaborasi antara orang tua dan guru RA dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, sekaligus membekali orang tua dengan pengetahuan serta keterampilan dalam mengasuh anak agar terhindar dari kekerasan maupun perundungan.
“Semua lembaga RA di Kecamatan Sadananya ikut berpartisipasi. Ada 10 RA dengan sekitar 350 orang tua yang mengikuti seminar ini,” ujarnya.
Elis menilai pengaruh perkembangan teknologi terhadap anak usia dini sangat besar apabila tidak disertai pendampingan yang tepat dari keluarga.
“Kalau anak terlalu lama menggunakan gadget tanpa pengawasan, dampaknya bisa membuat anak lebih temperamental. Karena itu kami memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada orang tua agar ada sinkronisasi antara pendidikan di rumah dan di sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan, pendekatan penuh kasih sayang menjadi salah satu cara efektif menghadapi anak ketika mengalami tantrum. Orang tua dianjurkan memberikan pelukan, sentuhan, dan kalimat afirmasi positif agar anak tumbuh percaya diri serta memiliki karakter yang baik.
“Kami berharap setelah kegiatan ini orang tua lebih siap mendampingi anak, mampu mengurangi ketergantungan terhadap gadget, sehingga anak tumbuh lebih mandiri dan berkarakter,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Pemulihan KPAID Tasikmalaya, Dede Sundara, menegaskan keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga keterlibatan aktif keluarga.
“Tidak ada kurikulum yang bisa berhasil tanpa keterlibatan orang tua. Seminar ini menjadi bukti nyata untuk membangun sinergi antara sekolah dan keluarga, karena tanggung jawab pendidikan bukan hanya berada di sekolah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendidikan anak melibatkan banyak unsur, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah hingga lingkungan digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menurut Dede, teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan sarana yang harus dimanfaatkan secara bijak.
“Teknologi bukan musuh. Semuanya kembali kepada bagaimana orang tua menggunakannya. Anak belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya. Ketika orang tua bijak memanfaatkan teknologi, anak akan mencontohnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pola asuh harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Tidak ada orang tua yang hebat. Yang ada adalah orang tua yang terus belajar. Karena setiap zaman memiliki tantangan pengasuhan yang berbeda,” katanya.
Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut. Menurutnya, Kecamatan Sadananya menjadi kecamatan pertama di Kabupaten Ciamis yang melaksanakan program parenting yang diinisiasi tingkat Provinsi Jawa Barat.
“Ini menjadi langkah yang luar biasa. Dari 27 kecamatan di Kabupaten Ciamis, baru Sadananya yang melaksanakan. Mudah-mudahan menjadi contoh bagi kecamatan lainnya,” ujarnya.
Lalis menilai seminar parenting menjadi kebutuhan bagi orang tua di tengah perubahan pola pengasuhan saat ini. Pasalnya, pendidikan karakter anak tidak cukup hanya dilakukan di sekolah, tetapi harus berlanjut di lingkungan keluarga.
“Anak hanya beberapa jam berada di sekolah, sedangkan sebagian besar waktunya bersama keluarga. Karena itu orang tua harus menjadi teladan agar pendidikan karakter berjalan selaras antara sekolah dan rumah,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar di seluruh kecamatan sehingga keberadaan RA semakin dikenal masyarakat sebagai lembaga pendidikan formal yang berperan penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.













