BERITA CIAMIS, ASAJABAR.COM – Kabupaten Ciamis mendapat alokasi sekitar Rp5,42 miliar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2026 untuk pelaksanaan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal bagi penanganan masalah gizi.
Di tengah program tersebut, sebanyak 7.969 balita di Kabupaten Ciamis tercatat mengalami kondisi berat badan tidak naik. Jumlah itu menjadi kelompok sasaran terbesar dalam intervensi masalah gizi.
Selain balita dengan berat badan tidak naik, terdapat 3.204 balita dengan kategori berat badan kurang dan 2.272 balita dengan status gizi kurang.
Program PMT lokal juga menyasar 1.330 ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK).
Dengan demikian, total sasaran intervensi masalah gizi yang disebutkan mencapai 14.775 orang.
Dana Kemenkes Rp5,42 Miliar
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, dr. Eni Rochaeni, mengatakan PMT lokal diberikan berdasarkan kondisi dan kriteria masalah gizi yang ditemukan di lapangan.
“Permasalahan gizi itu macam-macam. Ada gizi kurang, gizi buruk, berat badan tidak naik, berat badan kurang, dan ada juga yang status gizinya normal,” ujar Eni.
Untuk pelaksanaan PMT lokal pada 2026, Ciamis mendapat alokasi sekitar Rp5,42 miliar yang bersumber dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan.
Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung pelaksanaan PMT lokal melalui puskesmas. Besaran biaya yang disebutkan mencapai sekitar Rp16.500 per porsi untuk balita dan Rp21.500 per porsi untuk ibu hamil.
Pelaksanaan program tidak hanya berkaitan dengan pemberian makanan tambahan. Dinas Kesehatan juga melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi gizi setiap sasaran.
Eni mengatakan monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala.
“Setiap bulan dilakukan monitoring dan evaluasi. Kalau status gizinya sudah bagus atau sudah pulih, tentu intervensinya selesai,” katanya.
Menurut Eni, apabila berat badan anak tidak mengalami perubahan setelah mendapatkan PMT, petugas akan mencari penyebabnya, termasuk kemungkinan adanya penyakit penyerta.
“Kalau sudah diberikan PMT tetapi berat badannya tetap tidak naik, kita lihat penyebabnya. Bisa saja ada penyakit penyerta. Kalau diperlukan, bisa dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
7.969 Balita Berat Badannya Tak Naik
Dari seluruh kelompok sasaran, balita dengan kondisi berat badan tidak naik tercatat paling banyak, yakni 7.969 anak.
Balita dalam kategori tersebut mendapatkan PMT lokal selama satu siklus atau 14 hari. Sementara balita dengan berat badan kurang mendapatkan intervensi selama 28 hari, sedangkan balita dengan status gizi kurang mendapatkan PMT selama 56 hari.
Untuk ibu hamil dengan kondisi KEK, intervensi diberikan selama 120 hari.
Perbedaan durasi pemberian PMT tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sasaran.
Setelah pemberian PMT, pemantauan dilakukan oleh puskesmas bersama kader. Jika kondisi anak belum menunjukkan perbaikan, petugas akan menelusuri faktor yang kemungkinan menjadi penyebabnya.
Penerima PMT Lokal Bisa Mendapat MBG
Di tengah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dinas Kesehatan Ciamis menyebut penerima PMT lokal juga dapat menerima MBG.
Menurut Eni, kedua program tersebut memiliki sasaran dan tujuan yang berbeda. MBG diberikan kepada seluruh sasaran sesuai ketentuan program, sedangkan PMT lokal ditujukan secara khusus bagi kelompok yang mengalami masalah gizi.
“Kalau MBG itu semua sasaran, baik yang status gizinya normal maupun yang bermasalah. Sementara PMT lokal khusus untuk yang bermasalah gizi,” jelasnya.
Dengan demikian, seorang balita yang menerima MBG tetap dapat memperoleh PMT lokal apabila masih memenuhi kriteria sebagai sasaran intervensi masalah gizi.
Pelaksanaan PMT lokal melibatkan kader yang telah mendapatkan pelatihan. Di tingkat puskesmas, tenaga nutrisionis turut melakukan pendampingan terkait penyusunan dan pemberian makanan.
Menu PMT dibuat beragam dengan tetap memperhatikan kandungan gizi dan kebutuhan penerima.
Pemantauan juga dilakukan untuk melihat apakah makanan dikonsumsi oleh sasaran serta bagaimana perkembangan berat badan anak setelah mendapatkan intervensi.
Selain dana dari pemerintah pusat untuk PMT lokal, Dina Kesehatan Kabupaten Ciamis juga mengalokasikan sekitar Rp324 juta dari APBD 2026 untuk kegiatan Perjalanan Dinas Dalam Kota Pelaksanaan Optimalisasi Pemantauan Pertumbuhan Balita . Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 6.480 kader.
Dengan adanya alokasi dana dari pemerintah pusat untuk PMT lokal dan dukungan APBD untuk pemantauan tumbuh kembang, pelaksanaan serta hasil intervensi menjadi bagian penting yang perlu dipantau.
Terlebih, dari 14.775 sasaran masalah gizi, sebanyak 7.969 di antaranya merupakan balita yang tercatat mengalami berat badan tidak naik.
Data mengenai perkembangan kondisi balita setelah mendapatkan PMT lokal menjadi salah satu indikator penting untuk melihat dampak program terhadap perbaikan status gizi di Kabupaten Ciamis.













