INDRAMAYU, Asajabar.com — Paheran Takmad Diningrat, pendiri Komunitas Dayak Hindu-Buddha Bumi Segandu di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, meninggal dunia dan dimakamkan di padepokan yang ia dirikan di Desa Krimun, Minggu (29/3/2026). Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan nilai spiritual dan pelestarian lingkungan bagi para pengikutnya.
Semasa hidup, Takmad dikenal sebagai tokoh yang mengajarkan kasih sayang antar sesama manusia serta pentingnya hidup selaras dengan alam. Ia menjadi sosok sentral dalam membangun komunitas Dayak Losarang yang hingga kini tetap eksis di tengah masyarakat.
Istri almarhum, Bule, menyebut Takmad sebagai pribadi penyayang yang selalu menanamkan nilai keluarga.
“Bapak itu orangnya penyayang, beliau berwasiat kepada saya agar menyayangi anak dan cucunya,” ujarnya.
Takmad meninggalkan empat anak dan lima cucu. Ia bahkan sempat menitipkan harapan kepada tiga cucunya yang masih kecil untuk menjadi penerus ajaran yang telah dibangunnya.
“Bapak nitip ke saya, ada tiga cucu yang jadi penerus bapak. Mereka dipercaya bisa melihat masa depan,” kata Bule.
Dalam kesehariannya, Takmad dikenal menjalankan berbagai ritual tradisi Jawa seperti nyuguh setiap malam Jumat. Ajaran tersebut menjadi bagian dari kehidupan spiritual komunitas Dayak Hindu-Buddha Bumi Segandu.
Perjalanan hidup Takmad dimulai dari kesederhanaan. Ia pernah bekerja sebagai tukang becak, kuli, hingga awak kapal. Dari perjalanan antar pelabuhan, ia bertemu seorang guru silat asal Aceh bernama Midun yang kemudian mengajarkan ilmu bela diri kepadanya.
Pada era 1960 hingga 1970-an, ia merantau ke Jakarta dan dikenal sebagai ahli pencak silat di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Meski memiliki pengaruh, Takmad memilih kembali ke kampung halamannya di Indramayu.
Setelah kembali, ia mendirikan Perguruan Silat Serbaguna pada tahun 1973 sebagai wadah pembinaan moral dan spiritual masyarakat. Perguruan tersebut kemudian berkembang menjadi komunitas Suku Dayak Hindu-Buddha Bumi Segandu yang dikenal luas.
Pada tahun 1974, Takmad menikahi Sarini, yang kini dimakamkan berdampingan dengannya di area padepokan Nyi Ratu Kembar, lokasi yang menjadi pusat aktivitas komunitas tersebut.
Hingga saat ini, belum ada keputusan mengenai sosok yang akan melanjutkan peran Takmad sebagai pemimpin spiritual komunitas.
“Belum diobrolkan, belum tahu juga siapa yang bakal meneruskan,” pungkas Bule.













