Berita Ciamis, Asajabar.com – Madrasah di Kabupaten Ciamis mulai mempersiapkan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang akan diterapkan pada tahun ajaran mendatang.
Persiapan tersebut dilakukan melalui Workshop Implementasi Kurikulum Madrasah/RA Berbasis Kurikulum Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta untuk jenjang RA, MI, MTs, dan MA se-Kabupaten Ciamis.
Kegiatan yang digelar oleh Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Ciamis itu menjadi bagian dari sosialisasi perubahan regulasi pembelajaran di lingkungan madrasah.
Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, H. Jajang Jamaludin, mengatakan workshop tersebut penting untuk memberikan pemahaman kepada satuan pendidikan mengenai berbagai perubahan aturan yang akan diberlakukan.
“Ini menjadi langkah sosialisasi terhadap perubahan regulasi pembelajaran yang akan diterapkan mulai jenjang RA, MI, MTs hingga MA di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Ciamis,” ujarnya.
Menurut Jajang, terdapat sejumlah perubahan yang cukup signifikan dibandingkan regulasi sebelumnya. Di antaranya menyangkut ekuivalensi beban kerja wali kelas, pustakawan atau kepala perpustakaan, kepala laboratorium, hingga ketentuan jumlah minimal peserta didik dalam setiap rombongan belajar yang menjadi salah satu syarat kelayakan penerima sertifikasi guru.
Ia menjelaskan, sosialisasi terhadap regulasi baru tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu sehingga sebagian besar madrasah dinilai sudah siap menghadapi perubahan yang akan diterapkan.
“Saat ini fokusnya lebih kepada penyusunan dokumen kurikulum yang akan menjadi pedoman masing-masing lembaga dalam melaksanakan proses pembelajaran selama satu tahun ke depan,” katanya.
Jajang menilai tantangan terbesar yang akan dihadapi madrasah ke depan adalah pemenuhan jumlah peserta didik pada setiap rombongan belajar. Menurutnya, persaingan antar lembaga pendidikan saat ini semakin ketat, baik di lingkungan Kementerian Agama maupun di luar Kementerian Agama.
Karena itu, peran kepala madrasah dan guru dinilai sangat penting dalam menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan. Selain menjalankan tugas akademik, guru juga dituntut berkontribusi dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap madrasah.
“Peran kepala madrasah sebagai pengelola pendidikan sangat menentukan. Guru juga tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi ikut berperan dalam membangun kepercayaan masyarakat sehingga jumlah peserta didik dapat memenuhi ketentuan yang berlaku,” ungkapnya.
Melalui workshop tersebut, Kemenag Ciamis berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta mampu mendorong lahirnya madrasah yang unggul dan menghasilkan peserta didik berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.
Sementara itu, Ketua I Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Kabupaten Ciamis, H. Ezen Zenal Mutaqin, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus meningkatkan kompetensi guru madrasah melalui berbagai program pelatihan dan workshop.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi agenda rutin yang sangat penting, terutama dalam mendukung penyusunan dokumen kurikulum dan perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan kebijakan terbaru Kementerian Agama.
“Workshop ini difokuskan pada dua hal, yaitu penyusunan dokumen kurikulum madrasah berbasis cinta dan pembelajaran mendalam, serta penyusunan perencanaan pembelajaran yang mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut,” jelasnya.
Workshop dilaksanakan secara bertahap mulai 7 hingga 9 Juli 2026 dengan melibatkan peserta dari jenjang RA, MI, MTs, hingga MA. Jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 800 guru dan tenaga kependidikan dari berbagai madrasah di Kabupaten Ciamis.
Seluruh materi disampaikan oleh para pengawas madrasah sesuai jenjang masing-masing. Materi yang diberikan tidak hanya membahas konsep Kurikulum Berbasis Cinta dan deep learning, tetapi juga strategi penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas.
Ezen menjelaskan, pendekatan pembelajaran mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan peserta didik sebagai pusat proses pendidikan. Karena itu, penyusunan dokumen kurikulum hingga pelaksanaan pembelajaran harus mampu mengintegrasikan penguatan karakter, akhlak, dan kompetensi peserta didik secara seimbang.
“Orientasi pendidikan saat ini bukan hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Karena itu guru harus memahami konsepnya, mampu menyusun perencanaannya, dan mengimplementasikannya secara nyata dalam pembelajaran,” tegasnya.
Melalui kegiatan tersebut, PGMI berharap para guru madrasah di Kabupaten Ciamis semakin siap mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta dan pembelajaran mendalam sehingga kualitas pendidikan madrasah dapat terus meningkat sesuai tuntutan perkembangan zaman.













