Berita Ciamis, Asajabar.com – Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dinilai menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter anak sejak usia dini. Melalui pendekatan tersebut, guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menghadirkan suasana belajar yang penuh kasih sayang, bermakna, dan menyenangkan.
Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, saat mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Madrasah/RA Berbasis Kurikulum Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta.
Menurut Lalis, pendekatan pembelajaran yang selama ini diterapkan di RA pada dasarnya telah sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam. Guru-guru RA terbiasa membangun kedekatan emosional dengan peserta didik melalui sikap ramah, penuh perhatian, dan mengajar dengan hati.
“Anak-anak usia dini membutuhkan guru yang mampu memberikan kasih sayang tanpa syarat. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda sehingga harus diterima, dihargai, dan dibimbing dengan penuh cinta,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep pembelajaran mendalam mengedepankan tiga prinsip utama, yakni meaningful (bermakna), mindful (penuh kesadaran), dan joyful (menyenangkan). Ketiga prinsip tersebut harus diterapkan secara seimbang dalam setiap proses pembelajaran.
Pada aspek meaningful, pembelajaran diarahkan agar memiliki makna bagi kehidupan anak. Sementara mindful mendorong anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir sesuai tahap perkembangannya, seperti mengenal konsep berhitung sederhana, mengamati lingkungan, hingga memecahkan persoalan sederhana.
Adapun prinsip joyful menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui permainan edukatif, aktivitas di luar kelas, lagu, maupun berbagai media pembelajaran kreatif sehingga anak tidak mudah merasa bosan.
Lalis menambahkan, Kurikulum Berbasis Cinta juga mengedepankan penguatan karakter melalui konsep Panca Cinta, yakni cinta kepada Allah dan Rasulullah, cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, cinta kepada sesama, serta cinta kepada diri sendiri.
Menurutnya, penanaman nilai-nilai tersebut harus dimulai sejak usia dini karena masa anak-anak merupakan periode pembentukan karakter yang paling menentukan.
“Fondasi utama tetap akidah. Ketika anak memahami bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatannya, maka akan tumbuh kesadaran untuk berperilaku baik, menghargai orang lain, mencintai lingkungan, serta memiliki semangat belajar,” katanya.
Ia menilai guru juga harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan metode pembelajaran. Berbagai media edukatif dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan sesuai dengan karakter peserta didik.
Dalam workshop tersebut, para peserta memperoleh materi mengenai penyusunan dokumen kurikulum, perencanaan pembelajaran, hingga pembuatan alat peraga edukatif yang dapat diterapkan langsung di masing-masing lembaga.
Selain melalui workshop, KKRA Kabupaten Ciamis juga secara rutin memfasilitasi peningkatan kapasitas guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), pelatihan, forum berbagi praktik baik, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkaya metode pembelajaran.
Lalis mengungkapkan, pihaknya juga akan memanfaatkan Google Form sebagai sarana pemantauan penyusunan dokumen Kurikulum Berbasis Cinta di setiap RA. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh lembaga benar-benar menyusun dokumen kurikulum sesuai ketentuan dan dapat dipantau secara berkala.
“Melalui sistem pelaporan ini kami ingin memastikan setiap RA telah menyusun dokumen kurikulum dan siap mengimplementasikannya. Jika masih ada kendala, pengawas pembina di masing-masing kecamatan akan melakukan pendampingan,” jelasnya.
Ia berharap penerapan Kurikulum Berbasis Cinta mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berakhlak mulia, berkarakter kuat, serta memiliki kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, sesama manusia, lingkungan, dan ilmu pengetahuan sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.













