BERITA CIAMIS, ASAJABAR.COM – Sebanyak 383 calon mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, mengikuti kegiatan pelepasan bertajuk Mahrojan Tsuroyya yang diselenggarakan Afwaja Center di Pondok Pesantren Sibghotul Azhar As-Syarif, Kabupaten Ciamis, Senin (12/10/2026).
Dari ratusan peserta tersebut, 90 orang diketahui berasal dari Kabupaten Ciamis. Sementara itu, peserta lainnya datang dari sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Lombok, Kediri, dan Tangerang.
Acara ini turut dihadiri Guru Besar Ilmu Aqidah dan Ilmu Kalam Universitas Al-Azhar Kairo, Prof. Dr. Syaikh Jamal Faruq Al-Daqqaq Al-Azhari, bersama Direktur Afwaja Center, Ustadz Yumna Ilahy, L.C.
Dalam keterangannya, Yumna menyebutkan bahwa keberangkatan para calon mahasiswa tersebut telah melalui proses persiapan dan pembinaan yang berlangsung selama tiga bulan. Program ini dirancang untuk membantu peserta menghadapi tantangan akademik sekaligus kehidupan sosial di Mesir.
Materi pembinaan mencakup pembelajaran bahasa Arab, pendalaman dasar-dasar ilmu keislaman, pembentukan karakter, hingga penguatan kesiapan mental. Afwaja Center juga memberikan perhatian terhadap kemampuan peserta dalam beradaptasi dengan lingkungan baru.
Menurut Yumna, penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu aspek penting yang harus dimiliki calon mahasiswa sebelum memasuki lingkungan akademik Al-Azhar. Kemampuan tersebut diperlukan agar mereka dapat mengikuti perkuliahan sekaligus memahami berbagai referensi keislaman yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Ia menjelaskan, pembekalan tidak hanya diarahkan pada kemampuan berbahasa, tetapi juga pada pembentukan pribadi yang memiliki pemahaman agama, akhlak, dan kesiapan mental yang baik.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Prof. Dr. Syaikh Jamal Faruq mengenai kedudukan bahasa Arab sebagai sarana utama untuk memahami ajaran Islam secara lebih mendalam.
Selain program pembinaan, Afwaja Center juga memberikan dukungan pendidikan melalui beasiswa kepada tujuh kader. Bantuan ini menjadi salah satu bentuk upaya untuk membuka kesempatan belajar sekaligus mendukung lahirnya generasi yang memiliki kapasitas keilmuan di bidang agama.
Untuk pendidikan jenjang sarjana atau S1 di Mesir, masa studi diperkirakan berlangsung sekitar empat hingga lima tahun. Lamanya pendidikan dapat berbeda sesuai program studi dan ketentuan akademik yang berlaku.
Yumna menambahkan, persiapan menuju Mesir juga mencakup pengenalan terhadap budaya serta kebiasaan masyarakat setempat. Langkah tersebut diharapkan membantu para mahasiswa menjalani proses penyesuaian diri selama berada di luar negeri.
Hasil pembinaan selama tiga bulan turut ditampilkan dalam rangkaian Mahrojan Tsuroyya. Para peserta memperlihatkan kemampuan yang telah mereka pelajari, di antaranya melalui pidato menggunakan bahasa Arab dan pertunjukan yang mengangkat tema bahasa Arab.
Bagi Afwaja Center, pengiriman mahasiswa ke Mesir tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian gelar akademik. Para peserta diharapkan mampu membawa pulang pengetahuan yang diperoleh untuk kemudian dimanfaatkan dalam kegiatan pendidikan, dakwah, dan pelayanan kepada masyarakat.
Yumna berharap para calon mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik, kemudian kembali ke Tanah Air untuk membagikan ilmu yang telah dipelajari.
Ia menilai, upaya mempersiapkan generasi muda yang mendalami ilmu agama merupakan bagian dari tanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam di Indonesia.
Guru Besar Al-Azhar Ingatkan Pentingnya Adab dan Keikhlasan
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Syaikh Jamal Faruq Al-Daqqaq Al-Azhari menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai moral dalam proses menuntut ilmu.
Ia menyoroti kehadiran pelajar Indonesia, khususnya dari kawasan Asia, yang turut menjadi bagian dari lingkungan pendidikan Universitas Al-Azhar Kairo. Menurutnya, sikap santun, akhlak yang baik, serta penghormatan terhadap sesama merupakan nilai penting yang harus melekat pada diri seorang pencari ilmu.
Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan merupakan anugerah yang patut disyukuri. Karena itu, para calon mahasiswa diharapkan memiliki kesungguhan dalam belajar dan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengembangkan kapasitas diri.
Dalam proses pendidikan, penguasaan materi secara teoritis perlu diimbangi dengan pemahaman yang mendalam. Ilmu yang diperoleh juga semestinya diamalkan secara bertanggung jawab dan dilandasi niat yang tulus.
Prof. Jamal Faruq menempatkan keikhlasan sebagai salah satu unsur penting dalam memperoleh keberkahan ilmu. Ia mendorong para pelajar untuk meneladani kegigihan ulama terdahulu yang menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan pengetahuan.
Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini seharusnya menjadi sarana pendukung bagi kegiatan belajar. Kemudahan memperoleh informasi melalui internet dan platform digital perlu dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, bukan menjadi alasan berkurangnya kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Ia turut mengingatkan bahwa pembelajaran agama tidak cukup hanya mengandalkan hafalan. Para pelajar perlu memahami kandungan materi yang dipelajari agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pemahaman yang baik, ilmu agama diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi pedoman dalam bersikap, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Melalui kegiatan Mahrojan Tsuroyya, Afwaja Center berupaya menyiapkan calon mahasiswa yang memiliki bekal akademik sekaligus karakter yang kuat sebelum berangkat ke Mesir.
Program tersebut diharapkan melahirkan generasi yang berpengetahuan luas, berakhlak baik, serta mampu mengambil peran dalam pengembangan pendidikan Islam dan dakwah di Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo.













