Berita Kota Tasik, Asajabar.com – Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra, menilai momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 harus menjadi dorongan bagi generasi muda untuk memanfaatkan kemajuan teknologi digital tanpa meninggalkan budaya lokal dan nilai religius yang menjadi identitas Kota Tasikmalaya.
Tema Hari Kebangkitan Nasional yang diusung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tahun ini adalah “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan perkembangan zaman saat ini, khususnya dalam membentuk karakter generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi.
Menurut Dicky, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pelestarian budaya daerah. Ia menyebut masyarakat kini cenderung terbagi dalam dua kelompok, yakni mereka yang fokus pada budaya tetapi kurang mengikuti perkembangan teknologi, serta mereka yang aktif di dunia digital namun mulai melupakan budaya lokal.
“Sekarang seolah-olah ada yang hanya fokus pada budaya tetapi jadi gagap teknologi. Ada juga yang sangat digital, tetapi menganggap budaya sebagai sesuatu yang sudah tidak penting. Padahal keduanya harus bisa berjalan beriringan,” ujarnya kepada Asajabar.com usai Upacara Harkitnas, Rabu (20/5/2026).
Ia menuturkan, Pemerintah Kota Tasikmalaya berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda melalui berbagai kegiatan kreatif dan berbasis budaya. Salah satunya dengan menjadikan Tasikmalaya sebagai kota event yang memberi ruang bagi anak muda untuk berekspresi tanpa meninggalkan nilai budaya daerah.
Menurut Dicky, berbagai kegiatan budaya yang dikemas secara modern tetap dapat menarik minat generasi muda. Ia mencontohkan kegiatan “Ngarumat Hulu Cai” yang tetap menghadirkan unsur seni tradisional berdampingan dengan hiburan kekinian seperti pertunjukan musik.
“Kekinian boleh, tetapi tetap harus menjaga marwah budaya dan karakter wilayah masing-masing. Jadi semuanya bisa berjalan bersama dan saling menghargai,” katanya.
Sebagai seorang seniman dan sutradara, Dicky juga mengaku telah lama berupaya mengenalkan budaya Sunda kepada generasi muda melalui pendekatan kreatif. Ia pernah mengemas pertunjukan wayang golek dengan konsep kolaborasi bersama grup musik modern agar lebih diterima anak muda.
“Dulu saya membuat konsep band tampil bersama Cepot supaya anak muda tertarik dengan wayang golek. Itu bagian dari ikhtiar agar tradisi tetap dicintai generasi sekarang,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pelestarian budaya bukan hanya soal seni, tetapi juga menjaga karakter dan kebiasaan baik, seperti menghormati orang tua, menjaga sopan santun, hingga tradisi sungkeman yang mulai ditinggalkan sebagian generasi muda.
Dicky menilai tantangan tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab bersama, termasuk peran keluarga dalam mendidik anak-anak di rumah.
“Ini bukan hanya tantangan pemerintah, tetapi juga tantangan orang tua dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga karakter generasi muda,” tandasnya.













